Sungguh-sungguh Terjadi, Teman tapi Vampire. Waspadalah


BINA RASA - syintame.blogspot.com

BINA RASA - Ketika berteman dengan seseorang yang berjiwa Vampire, maka bersiaplah jika sewaktu-waktu darah  kitapun akan ikut dihisab olehnya.

Orang yang berjiwa Vampire akan selalu modus di dalam menjalin pertemanan. Mereka mau berteman karena temannya tersebut mempunyai kekayaan, ilmu, harta, pangkat, jabatan, dan hal-hal menarik lainnya yang melekat pada diri temannya tersebut.

Para Vampire akan terus "menemani", sampai keinginannya tercapai. Sampai puas menghisab darah temannya.

Merekalah orang-orang munafik dalam pertemanan. Kalau bahasa gaulnya, "Ing ngarso numpok konco, ing madyo nguntal konco, tut wuri bebayani."

Di sisi lain, bersyukurlah jika memiliki teman yang berjiwa vampire. Karena dengan begitu kita akan menjadi tahu, siapa teman kita yang tulus, dan siapa teman kita yang modus (Vampire).

Jadi, dinikmati saja jika ada di antara teman-teman kita yang berjiwa vampire. Dengan begitu kita akan lebih berhati-hati dalam menjalin pertemanan. Dan tentunya kitapun tidak akan ikut-ikutan menjadi munafik, juga tidak kecewa karena kemunafikan dari teman kita tersebut.
***
Terkadang cara Tuhan mengajari hamba-Nya tentang ketulusan melalui teman-temannya yang modus (Vampire).

Hatipun menjadi sakit, kecewa, dan marah; ketika kebaikan dibalas dengan kejahatan, ketika kesetiaan berbalas pengkhianatan.

(Artikel Menarik Lainnya, Klik! Ilmu Pengasihan Para Wali Allah)

Pada akhirnya, berbagai macam peristiwa yang tidak mengenakan tersebut akan berbuah keindahan (hati). Diperjalankan sampai benar-benar ihlas. Dan akhirnya kitapun tersenyum dengan semua itu.

Itulah cara Tuhan mengajari hakikat keihlasan di hati. Ihlas yang tidak hanya sebatas di mulut, dengan merapal kata-kata ihlas; namun hati mengingkari.
***
Setiap orang tentu ingin mempunyai teman yang banyak dan baik hati. Namun apalah artinya teman yang banyak kalau modus. Apalah artinya teman yang baik kalau hanya sekedar kelihatan baik.

Kalu sudah begitu, mending mempunyai teman yang sedikit, namun tulus.

Tak mengapa jika teman kita sedikit, namun ada di saat kita membutuhkannya. Teman tapi mesra (tulus).

Apapun kondisi kita, teman yang tulus akan selalu ada menemani. Baik dalam kondisi senang ataupun susah.

Jika diri kita sedang susah, sedang sakit, sedang membutuhkan bantuan, dan sedang khilaf sekalipun; mereka akan tetap ada untuk menemani. Merekalah teman sejati kita. Peluk erat-erat teman yang tulus seperti itu!

(Artikel Menarik Lainnya, Klik! AIDS Bisa Disembuhkan dengan Tuntas)

Sebaliknya, jika teman kita menghilang seperti ditelan bumi ketika kita sedang membutuhkannya, waspadalah; dialah teman munafik yg siap menghisap darah, ketika kita lalai.

Terkadang sulit juga untuk membuktikan ketulusan seseorang dalam pertemanan.

Untuk membuktikan akan ketulusan cinta seorang teman, uji saja teman kita tersebut dengan meminta bantuannya. Dan kalaupun tidak bisa, jangan khawatir; seleksi alam akan tetap berjalan.

Semesta akan menunjukan kebenarannya; siapa teman kita yang tulus, dan siapa teman kita yang modus.

Wallahu 'alam bish-shawab.

Ciptaning Hening, Cara Mudah Memahami Kehendak Tuhan


BINA RASA - syintame.blogspot.com

BINA RASA - Boleh jadi Allah sudah membukakan pintu ketaatan kepada seseorang, namun tidak membukakan pintu penerimaan-Nya. Boleh jadi Allah telah mentakdirkan seorang anak Adam berbuat maksiat. Dan bisa jadi, karena kemaksiatannya tersebut yang menyebabkan jiwanya kembali kepada Allah.

Demi Allah, jangan menilai seseorang karena sejarah kelamnya. Sebab kita tidak hidup di sana. Biarkan sang pejalan membuktikan kesungguhannya kembali kepada Allah. Biarkan dia berusaha menyucikan diri dengan taubatan nasuha.

(Artikel Terkait Kisah Taubatnya Seorang Wanita Pezina

Bisa jadi Allah lebih suka mendengarkan rintihan penyesalan seorang hamba yang berdosa; dari pada seorang abid yang sedang khusyuk beribadah.

Sungguh, kemaksiatan yang melahirkan ketundukan, dan membuat hati hancur itu lebih baik; dari pada ketaatan yang mengakibatkan ketakjuban terhadap diri sendiri.

(Artikel Terkait Ma'rifatullah dengan Dua Sayap Taubat)

Sungguh, Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat. Seperti janji Allah berikut,
".........Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."
(QS. Al-Baqarah: Ayat 222)

***
Maha Cinta Allah dengan segala kehendak-Nya, 'Tiada daya dan upaya selain pertolongan Allah"


Seorang hamba sholat, karena Allah-lah yang menyolatkan. Seorang manusia bermaksiat, karena Allah telah mengijinkannya bermaksiat (menuruti nafsu terlarang).

Bismillahi kun fayakun, mintalah pertolongan Allah agar diberi kemudahan di jalan ketaatan, dan di dalam menjauhi larangan-larangan-Nya.
***
Dalam mengarungi kehidupan, ada kalanya Allah sengaja menyapa hamba-Nya dengan ujian hidup dan musibah karena buah dari kemaksiatannya.

Dengan ujian hidup itulah Allah membukakan pintu-pintu penyucian diri dari perbuatan dosa (kemaksiatan).

Untuk memperbaiki hati "seorang mukmin", terkadang Allah akan meremukan hati dan
memudarkan harapannya. Ujian datang silih berganti menyapa. Seakan-akan Allah tidak mendengar jeritan hatinya.

(Artikel Terkait Sengsara Membawa Berkah)

Menghancurkan hati sehancur-hancurnya, perih seperih-perihnya (pada seorang mukmin). Hingga sakit itu tak terasa lagi, hingga harapan itu tak ada lagi. Dan yang ada hanyalah kerinduan pada Tuhannya.

(Artikel Terkait Kun Fayakun, Keajaiban Pertolongan Allah)

Dengan begitu, Allah akan menenggelamkan dosa-dosanya. Keridhaan Allah memenuhi harapannya. Cinta Allah mengalahkan logikanya. Dan kasih sayang Allah membuatnya tidak memerlukan apapun.

Ketahuilah, sesungguhnya ujian hidup bukanlah ujian atas kekuatan jiwa. Ujian hidup adalah ujian kekuatan seorang hamba untuk "bertaubat" dan "meminta pertolongan" kepada Allah. Tanpa cobaan hidup, hati akan menjadi lalai dari mengingat Allah, dan hilangnya rasa penghambaan dari dalam diri.

Wallahu 'alam bish-shawab



Ngga Pakai Ribet, Ilmu Wali Allah ini Terbukti Ampuh untuk Pelet Pengasihan


BINA RASA - syintame.blogspot.com

BINA RASA - Melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang Cara Ampuh Membangkitkan Daya Pemikat. Dan inilah langkah-langkah jitu lainnya untuk membangkitkan daya pikat dalam pergaulan.

C. Komunikasi

1. Ucapkan Salam dan Berjabat Tangan
Ketika bertemu dengan seseorang, atau ketika memulai sebuah pembicaraan; biasakanlah untuk mengucapkan salam. Namun harus bijak, harus tahu status orang yang mau diajak bergaul. Jika bertemu dengan orang yang statusnya non muslim, maka ucapkanlah salam seperti adat kebiasaan setempat. Namun jika bertemu dengan sesama muslim, maka ucapkanlah salam seperti yang disyari'atkan. Yaitu dengan mengucapkan, "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Artinya, "Semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya terlimpah kepada kalian."

Salam yang diucapkan dengan tulus akan menumbuhkan rasa cinta.

Perhatikan pesan Rasulullah SAW seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (No. 54) berikut ini, “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”

Setelah mengucapkan salam, berjabatlah tangan dengan "hangat".

Seperti pesan Rasulullah SAW berikut ini;
“Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni (dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah."
(HR. Abu Dawud, No. 5212)

Dengan mengucapkan salam dan berjabat tangan (dengan tulus) akan menumbuhkan kehangatan, kenyamanan, dan rasa cinta dalam pergaulan.

2. Tulus Menjaga Adab
Dalam khasanah tasawuf, adab adalah pintu masuk dari rasa ihsan kepada Allah. Semakin tinggi adabnya, semakin melesatlah rasa ihsannya. Maka dari itu pergaulan yang disertai adab akan menuai keutamaan (pergaulan).

Dan inilah adab berkomunikasi yang ampuh untuk meraih keutamaan dalam pergaulan;

a. Jaga Sikap Badan
Ketika berbicara dengan seseorang, usahakanlah posisi badan menghadap orang tersebut.

b. Fokus pada Obrolan
Ketika berbicara dengan seseorang, usahakanlah untuk tetap fokus dengannya. Dengan begitu, ia akan merasa dihargai dihargai kehadirannya.

Tetaplah fokus dalam pembicaraan. Kalau tidak darurat, jangan beraktifitas lain. Misal, sok sibuk dengan aktifitas HP.

Boleh-boleh saja dalam sebuah pembicaraan (off air) untuk diselingi dengan beraktifas memakai HP. Namun itu sifatnya darurat, misal; menerima panggilan suara masuk di HP.

Jika hanya SMS dan Chating, lebih baik tidak usah direspon langsung. Karena SMS atau chating masih bisa ditunda untuk direspon. Dan kalau memang kudu membalas SMS, chating atau menerima panggilan suara telephon; lebih baik sesekali saja untuk meresponnya.

Bisa menjadi renungan, "Bila kita sibuk dengan HP di saat sendiri, berarti kita sedang mengusir sepi. Dan apabila kita terlalu sibuk dengan HP ketika sedang bersama orang lain (teman), apa berarti kita sedang mengusir seorang teman?"

c. Adil dalam Berkomunikasi
Dalam berkomunikasi dengan orang lain, bersikaplah adil dalam berbagi pembicaraan. Dan jangan pula merampok haknya orang lain untuk berbicara.

Berbicaralah yang adil, beri kesempatan orang lain untuk mendapatkan haknya berbicara.

Dengan berbuat adil, tentu akan mengikis egoisme. Bukankah setiap orang senang jika diperlakukan adil. Dan dengan rasa senang tersebut, maka pintu-pintu rasa nyaman, juga rasa cinta akan lebih mudah terbuka.

Ketika berbicara dalam suatu komunitas (lebih dari dua orang), keadilan dalam berbagi perhatian juga wajib kita tegakan.

Korelasi hal di atas seperti wasiat Rasulullah SAW dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim berikut ini, "Apabila kamu bertiga, maka janganlah dua orang di antara kamu saling berbisik-bisik tanpa mengajak yang lainnya, hingga mereka bercampur dengan orang-orang, karena hal tersebut akan menyakitinya."

d. Merendahkan Suara dan Berkata yang Baik
Ketika berbicara dengan orang lain, sebaiknya bisa merendahkan intonasi suara.

Di sisi lain, berbicara dengan intonasi tinggi malah sangat dianjurkan. Misal ketika seseorang menjadi Khatib Shalat Jum'at, disyari'atkan untuk bisa berbicara (berkhotbah) dengan intonasi tinggi.

Dengan qiyas khotbah Khotib Jum'at, maka bisa menjadi rujukan diperbolehkannya berbicara dengan intonasi tinggi ketika dalam forum-forum khusus, atau hal-hal khusus.

Pentingnya merendahkan suara dalam pergaulan telah dicontohkan Luqman ketika menasihati anaknya.

Berikut nasihat Lukman yang diabadikan dalam Al- Qur'an Surat Luqman Ayat 19, "Dan sederhanakanlah dalam berjalan, dan rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai."

Selain merendahkan suara, bangunlah cinta dalam pergaulan dengan berbicara yang baik-baik.

Perhatikan firman Allah berikut,

".... Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat... ."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 83)

Nasihat berkata baik juga diwasiatkan oleh Nabi Muhammad SAW, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

e. Jangan Memotong Pembicaraan
Karena setiap orang tidak ingin pembicaraannya dipotong oleh orang lain. Pengin omongannya diakui.

Akan tetapi masih dibenarkan untuk memotong pembicaraan orang lain, jika memang itu diperlukan (darurat). Namun tetaplah dengan adab.

f. Jujur
Setiap orang pasti mencintai sebuah kejujuran. Maka dari itu, orang yang jujur pasti akan dicintai orang lain. Karena cinta, orang pun akan empati dan percaya dengan orang yang jujur.

Sebaliknya, orang yang suka berdusta tentu omongannya tidak akan dipercaya oleh orang lain. Dan bisa menyebabkan kebencian, juga permusuhan dalam pergaulan.

g. Memanggil Nama dan Gelar yang disukai
Dalam seni berkomunikasi, orang akan lebih senang jika dipanggil namanya.

Jangan sekali-kali memanggil seseorang dengan sebutan yang tidak disukainya. Misal ada orang yang berperawakan pendek, dan orang lain memanggilnya dengan sebutan pendek. Tentu akan menjadi bumerang jika yang dipanggil tersebut tidak rela. Nah disinilah perlunya kita mengenal (ta'aruf) dan memahami (tafahum) orang lain.

Hal lainnya yang dapat mengindahkan pergaulan adalah dengan menambahkan sebutan, atau gelar yang kebanyakan orang suka. Misal dengan menambahkan sebutan pak, mas, mbah, dik, bos, bro, sis, ndan, dan lain sebagainya (sesuai adat, budaya, dan karakter seseorang).

Notes: Dalam berkomunikasi dengan istrinya Aisyah RA, Rasulullah SAW  juga menambahkan sebutan kesayangan, yaitu dengan sebutan Humaira, dan Aisyi.

h. Bercanda
Pemanis dalam pergaulan adalah bercanda. Karena Sang Panutan Nabi Muhammad SAW juga suka bercanda.

Dengan bercanda, pertemanan akan lebih akrab dan lebih cair. Namun karena bercanda itu hanya sebagai pemanis, maka sebaiknya jangan berlebihan. Karena banyak bercanda akan menghilangkan rasa hati.

Selain itu, dalam bercanda juga dilarang berdusta, dan menghujat orang lain.

i. Pintar Melihat Situasi
Setelah mengerti dan memahami dengan orang yang akan diajak berkomunikasi, tentu dalam pembicaraan harus bisa menyesuaikan.

Berbicaralah dengan seseorang sesuai frekuensi pemikirannya.

Tentu tidak akan terjadi pembicaraan yang mengasyiekkan, jika berbicara tak mengindahkan kemampuan berfikir orang lain. Contoh, seorang ahli ekonomi tentu tidak akan satu frekuensi obrolannya dengan seorang buruh bangunan. Tanpa bermaksut merendahkan, seorang buruh bangunan pasti tidak akan nyambung bila diajak ngobrol tentang ekonomi makro dan lain sebagainya. Dan biar lebih nyambung obrolannya, tentu harus menyamakan frekuensinya bukan. Baik frekuensi pemikiran, kejiwaan, dan lain sebagainya.

Selain melihat situasi pemikiran, dan kejiwaan seseorang dalam berkomunikasi; tentu juga harus pintar melihat situasi tempat dalam berkomunikasi.

Ketika di forum resmi berbicaralah dengan serius, namun tetap hangat. Dan ketika di forum santai, berbicaralah dengan warna keakraban.

Janganlah merusak suasana keakraban dalam sebuah perjamuan pertemanan dengan loby-loby bisnis. Boleh berbisnis dengan teman-teman kita, namun ada waktunya tersendiri.

Penulis sendiri juga pernah mengalami hal yang sama. Sudah sekian lama tak berjumpa dengan seorang teman, begitu bertemu dengannya, yang dibicarakan hanya bisnis saja. Berlanjut di dumay dan lewat telephone pun juga sama, boro-boro menanyakan kabar; yang dibicarakanpun tetap rayuan agar mengikuti bisnisnya.

Bagi penulis, teman seperti itu layak dikasihani. Teman tapi munafik, teman tapi oportunis. Berteman karena ada maunya saja.

j. Tebarkan Senyum
Meski hati sedih, meski bibir berat untuk tersenyum; senyumlah untuk orang lain dengan tulus! Karena senyuman yang tulus akan mengindahkan pergaulan.

k. Saling Memberi Hadiah
Dalam hukum positif, orang akan berbunga-bunga jika mendapatkan hadiah dari sebuah jalinan pergaulan. Dan sebaiknya untuk saling memberi hadiah, saling berbalas hadiah. Karena dengan saling memberi hadiah akan menyuburkan cinta dalam pergaulan.

Dalam spiritual Islam, saling berbalas hadiah sangat disunahkan (semampunya). Dan inilah rujukan hadisnya,

“Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.”
(HR. Bukhari)

l. Berani Meminta Maaf dan Berterima Kasih
Tak perlu menunggu bersalah untuk meminta maaf. Kadang kata maaf dalam pergaulan bisa melunakan hati seseorang. Jika tidak terlalu prinsip, terkadang mengalah itu lebih baik dalam sebuah pergaulan. Karena, kadang kala dengan mengalah justru akan memenangkan hati seseorang.

Berani meminta maaf, juga harus berani mengucapkan terima kasih. Seseorang tentu akan merasa senang jika hal yang dilakukannya diterima orang lain dengan suka cita. Meskipun ia berbuat tanpa berharap ucapan terima kasih.

D. Tawakal
Langkah terakhir dari semua ikhtiar untuk meraih keutamaan pergaulan adalah dengan bertawakal (berserah diri) kepada Allah SWT. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berserah diri. Jadi andaipun seseorang gagal untuk dicintai manusia, jangan khawatir, karena masih ada cinta yang sejati. Yaitu cinta Allah. Cinta yang tidak bertepuk sebelah tangan kepada seorang hamba yang bersungguh-sungguh bertawakal kepada-Nya.

NOTES
Sudah menjadi hukum alam, minyak dan air tak akan bisa bersatu. Sama halnya dalam pergaulan. Orang yang baik bisa saja bertemu dengan orang yang tidak baik, namun tetaplah tidak akan bisa bersatu (menjadi teman akrab). Kecuali atas rahmat Allah. Yaitu dengan memberikan kebaikan pada keduanya.

Sungguh kita akan dikumpulkan (akrab) dengan orang-orang yang saling mencintai.

Dengan kepribadian yang baik, akan menghidupkan inner beauty dalam pergaulan. Dengan cinta, orang-orang akan tetap bertahan di sisi kita, dan tetap merasa nyaman bersama kita.

Kata kuncinya untuk meraih keutamaan dalam pergaulan adalah cinta.

Karena mencintai pembelinya, seorang pedagang tak akan menipu pembelinya. Karena mencintai rakyatnya, seorang pejabat tidak akan mencuri uang rakyat (korupsi). Karena mencinta temannya, seorang karib tak akan menyakiti sahabatnya. Dan masih banyak lagi kebaikan jika cinta yang berbicara. Seperti itulah cinta, cinta akan mengajarkan kita menjadi orang yang baik.

Wallahu 'alam bish-shawab.

Cara Ampuh Membangkitkan Daya Pikat dalam Pergaulan


BINA RASA - syintame.blogspot.com

BINA RASA - Sebagai makhluk sosial, kehidupan manusia tidak akan bisa terlepas dari berinteraksi dengan manusia lainnya. Baik interaksi langsung maupun tidak langsung. Baik interaksi dengan keluarga, teman, tetangga dan masyarakat pada umumnya.

Dalam berinteraksi dengan orang lain, kadang kita merasakan komunikasi yang garing dan ketidak nyamanan batin.

Pernah ada teman yang curhat ke penulis. Setiap kali ia bercengkrama dengan temannya, selalu saja ia merasa tidak nyaman. Selalu merasa BeTe jika dekat dengan temannya tersebut. Wis pokoknya  ngga betah dah kalau ia berdekatan dengan temannya tersebut. Padahal kalau difikir-fikir, temannya tersebut berparas menawan, dan kaya. Di sisi lain, justru ia merasa nyaman berteman dengan seseorang yang kelihatannya biasa-biasa saja. Karena ia merasa nyaman, juga adem; meski hanya sekedar bertatap muka dan sedikit berbicara. Padahal teman yang membuatnya nyaman dan adem tersebut hanya biasa-biasa saja; jauh dari kelebihan yang menonjol.

Penulis sendiri juga pernah mengalami hal yang sama. Merasa tidak nyaman dan garing rasanya ketika mendengar ceramah dari salah seorang yang katanya ustad dan ditokohkan. Meski tutur katanya baik, keilmuannya mumpuni; akan tetapi hati ini tetap saja bergejolak.

Ceramah dari orang yang katanya Ustad tersebut tidak mempunyai daya tembus ke hati para pendengarnya. Usut punya usut, hati nuranipun berbicara, terbukalah hijab si ustad. Wajarlah kalau si ustad tersebut tak punya kharisma keustadan, karena ia sendiri munafik dengan dirinya sendiri.

Ceramah si ustad tidak mempunyai daya tembus sampai ke hati para pendengarnya, karena dibelakang lisannya adalah hawa nafsu. Dan di belakang keilmuannya pun terbuka hijab akan kebusukan amalnya. Innalillah, Allah akan memberikan petunjuk untuknya.

Nah, seperti itulah kira-kira inner beauty berperan pada seseorang. Pancaran hati (inner beauty) itulah yang akan bisa berdampak nyaman, atau tidak nyaman ketika kita bergaul.

Kenyamanan itulah yang akan menggulirkan perasaan cinta dan kasih sayang dalam pergaulan. Pada akhirnya dari rasa cinta dan kasih sayang tersebut akan menumbuhkan jiwa asah asih asuh.
***
Bismillah, berikut "Tips" dan "Adab" bergaul yang bisa melesatkan inner beauty. Inner beauty yang bisa melahirkan kenyamanan dan rasa cinta dalam pergaulan.

A. Olah Hati
Segala sesuatu berawal dari hati (batin), semua akan indah pada hatinya. Sama halnya dalam menjalin keintiman pergaulan. Pergaulan akan terasa lebih indah dan penuh cinta bila diawali dengan ketulusan.

Dari ketulusan tersebut akan memancarkan inner beauty.

Seseorang yang mempunyai ketulusan akan lebih mudah mencintai, dan lembut hatinya. Hati kalau sudah tersiram rasa cinta, rasa benci tak punya ruang untuk menempatinya. Andaipun ada rasa benci, bencinya karena Allah. Membenci sesuatu dengan subyek perbuatan jeleknya, bukan membenci pelakunya kejelekan.

Konon, dalam sebuah hadis shahih Rasulullah SAW berpesan, "Siapa yang tidak mencintai, maka ia juga tidak akan dicintai."
Jadi, kalau kita ingin dicintai, maka mulailah dengan mencintai orang lain terlebih dahulu. Sudah menjadi hukum alam, orang yang menanam cinta, akan menumbuhkan rasa cinta. Orang yang menebarkan kasih, akan berbalas sayang. Itulah kristalisasi kasih sayang. Sumber cahaya untuk memancarkan inner beauty dari dalam diri.

B. Tafakur
Untuk meraih keutamaan dalam pergaulan, maka setiap diri harus bisa mentafakuri pergaulannya.

Dan inilah hal-hal yang musti kita tafakurkan dalam pergaulan. Tafakur yang bisa memancarkan inner beauty, menumbuhkan rasa nyaman dan rasa cinta dalam pergaulan;

1. Ta'aruf (Saling Mengenal)
Ada peribahasa yang sangat masyur, "Tak kenal maka tak sayang." Jadi kalau kita ingin disayang, langkah awalnya memang kudu harus saling mengenal terlebih dahulu.

Sama halnya dalam pergaulan, kalau kita ingin intim dalam pergaulan; maka kita harus ta'aruf terlebih dahulu. Kita kenali secara lahiriah orang yang ingin kita ajak bergaul.

Wajib bagi kita untuk mengenali orang yang akan kita ajak akrab dalam sebuah pergaulan. Maka mulailah untuk mengenali badaniyahnya, karakternya, kesukaannya, pemikirannya, dan apapun yang melekat pada dirinya.

2. Tafahum (Saling Memahami)

Setelah saling mengenal, proses alamiah berikutnya adalah semangat untuk saling memahami. Dengan saling memahami, maka akan menjadikan kepribadian yang mudah bertoleransi, dan saling empati dalam pergaulan.

3. Ta'awun (Saling Menolong)

Dengan saling mengenal, saling memahami; maka sifat suka menolong akan mewarnai dalam sebuah pergaulan.

4. Takaful (Saling Menanggung)

Susah senang dirasakan bersama. Ibarat tubuh, ketika salah salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lainnya pun akan ikut merasakan sakit. Sama halnya dengan jiwa yang sudah tercerahkan. Ia ikut menanggung menyelesaikan suatu masalah, ketika ada orang yang ia kasihi sedang tertimpa masalah.

5. Itsar (Mendahulukan Kepentingan Orang Lain)
Ketika seseorang sudah mampu melepaskan keakuannya, maka ia akan memposisikan dirinya untuk orang lain. Ia senantiasa memancarkan aura cinta, dan sikap asah asih asuh untuk orang lain.

Hal tersebut sejalan dengan pesan Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, "Tidak beriman seseorang di antaramu, hingga kamu mencintainya seperti kamu mencintai diri sendiri."
(Bersambung)

Terungkap, 9 Fakta Mengejutkan di Balik Karamah Sang Sufi


Terungkap, 9 Fakta Mengejutkan di Balik  Karamah Sang Sufi

BINA RASA - Dalam hidup ini, segala sesuatu tak akan terjadi bila tak ada Hikmahnya - Jalan Cinta Sang Sufi 1.   Dan inilah sembilan fakta dan hikmah di balik karamah Sang Sufi Wijaya - Jalan Cinta Sang Sufi 2

1. Keluarga Sebagai Pondasi Pembentukan Karakter Anak
Kita tak dapat memilih untuk dilahirkan dari keluarga mana. Alhamdulillah jika kita terlahir dari keluarga baik-baik. Baik dari sisi dunia, maupun agama. Sebaliknya, jika kita terlahir dari keluarga yang tidak baik, dan dibesarkan dalam keluarga broken home sekalipun; kita masih bisa menjadi orang baik.

Untuk menjadi orang baik, kita hanya perlu jujur pada diri sendiri. Jujur untuk bisa mendengarkan suara hati nurani. Karena hati nurani tidak pernah berbohong, suara hati nurani adalah suara Tuhan yang tak perlu ditafsirkan lagi.

Sejelek-jeleknya manusia masih ada kebaikannya, dan sebaik-baik manusia pasti ada kekurangannya; kecuali Nabi Muhammad SAW yang maksum. Artinya, setiap orang bisa menjadi orang baik, selama ia masih mau mendengarkan suara hatinya. Dan untuk bisa mendengarkan suara hati, syaratnya harus menanggalkan kemunafikan dirinya.

Seperti halnya kisah Sang Sufi Wijaya. Ia dibesarkan dalam keluarga yang berantakan, keluarga yang selalu diliputi kegaduhan. Situasi itulah yang menjadikan Sang Sufi Wijaya berkarakter keras dan pemberani. Namun pada akhirnya karakter yang dimilikinya tersebut bisa menjadi kebaikan, setelah diperjalankan hidayahnya Allah.

Tak dipungkiri juga, anak-anak yang hidup dalam keluarga yang baik-baik sekalipun bisa menjadi nakal, dan dewasanya bisa menjadi bejat. Selama ia tumbuh dalam kebaikan, namun tidak memahami makna dan tujuan dari sebuah kebaikan.

Anak-anak model seperti itu hanya akan terjajah oleh doktrin-doktrin oleh lingkungannya. Apapun itu, ikuti saja apa kata orang tua, dan jangan membantah. Apapun itu, turutin saja perintah guru, dan jangan melawan. Apapun itu, ikuti saja apa kata kebanyakan orang, kau tau apa. Itulah doktrin-doktrin menyesatkan yang menyebabkan tumbuh kembang anak atau remaja tanpa mempunyai karakter. Hidup menjadi pribadi yang lemah, hidup dengan menjadi orang lain.

Hal-hal seperti itulah yang menjajah seorang anak atau remaja dalam penjara dengan menjadi orang lain. Terjajah dengan tidak bisa berfikir kritis, tidak bisa menjadi diri sendiri, dan tidak bisa mengikuti kata hati.

Untuk itu, jadilah orang tua yang cerdas dalam memimpin keluarganya. Didiklah anak-anak kita dengan hukum-hukum Allah, dan iringi dengan hakikat-Nya. Cintailah anak-anak kita apa adanya. Meski anak-anak kita tidak sesuai harapan. Dengan begitu, anak-anak kitapun akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, dan tentu saja akan lebih mudah membahagiakan kedua orang tuanya.

Sungguh tak ada anak yang sempurna, kecuali kalau kita benar-benar mencintai anak-anak kita dengan tulus. Anak-anak yang kita cintaipun akan terlihat sempurna di mata kita. Qana'ah atas karunia anak yang telah dititipkan kepada kita. Begitulah cinta, ia akan menyempurnakan yang tidak sempurna.

2. Pemimpin bukan Pimpinan
Ibarat sebuah negara, pemimpin dalam sebuah keluarga adalah ayah (suami). Kebaikan sebuah keluarga berawal dari sebuah kepemimpinan kepala keluarganya.

Idealnya seorang kepala keluarga harus mampu memimpin anggota keluarganya dengan ilmu, iman, dan rasa. Itulah pemimpin yang dirahmati. Pemimpin yang tidak hanya bisa menunjuk, tapi juga bisa menjadi petunjuk.

Sebaliknya, kepala keluarga yang memimpin anggota keluarganya tanpa ilmu, iman dan cinta; hanya akan melahirkan karakter pimpinan, bukan pemimpin. Konotasinya dari pimpinan adalah memimpin dengan egoisme, otoriter tanpa ilmu dan rasa.

Dampak kepemimpinan yang berkarakter pimpinan akan menumbuhkan kegaduhan dalam keluarga tersebut.

Seperti halnya kisah Sufi Wijaya yang dibesarkan dalam kegaduhan keluarga. Beruntung Sufi Wijaya termasuk hamba-Nya yang dirahmati. Sehingga jalan keimanan dan ketaqwaan dapat ia rasakan.

Jadi secara sunatullah memang kepala keluarga-lah yang dominan mengkondisikan keadaan keluarganya. Di samping istri juga berperan penting membantu suaminya dalam mengelola keluarganya.

Idealnya memang kudu bersinergi antara suami dan istri dalam membina keluarganya.

Kita renungkan... . Bagaimana keluarga bisa menjadi keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah; jika suami tidak bisa menjadi teladan, dan istri tidak patuh pada suaminya. Dan bagaimana pula bisa memiliki anak-anak yang shalih; jika suami jauh dari orang-orang shalih, jauh dari para ulama, dan jauh dari Allah.

Jadilah pemimpin, bukan pimpinan. Seorang suami adalah pemimpin bagi istrinya, dan pemimpin bagi anak-anaknya (belum baligh). Namun bukan berarti istri, dan anak-anaknya kudu taat mutlak dengan semua perintah imamnya. Seperti kopral mengikuti perintah jendral yang harus selalu siap.

Seorang ayah (pemimpin keluarga) kudu bisa memimpin hatinya istri, dan anak-anaknya. Mengetahui perasaan istri dan anak-anaknya. Kapan harus mengalah, kapan harus diam, dan seperti apa agar bisa mengendalikan hati anggota keluarga yg dipimpinnya. Kudu bisa memimpin istri dan anak-anaknya untuk sehidup sesurga. Bahagia, aman, nyaman, tenang dan tentram di hati; itulah Surga.

Beribu sayang, banyak sekali yang memakai agama untuk memimpin istri dan anak-anaknya ke neraka. Kudu menuruti semua perintah, ego tidak boleh membantah, dan tanpa mengetahui perasaan hati anggota keluarganya. Malah kadang hoby kawin lagi sesuka kehendak syahwatnya. Tidak peduli hati istri dan anak-anaknya yang menderita karenanya. Bukankah penderitaan di hati itu Neraka.

3. Menjemput Cahaya
Setiap manusia dilahirkan suci, dan bertauhid hanya kepada Allah. Nafsu setanlah yang menjadikan manusia lupa dengan fitrahnya.

Hanya orang-orang yang jujur dengan fitrahnya sebagai seorang hamba yang mampu kembali bertauhid.

Seperti halnya perjalanan spiritual Sufi Wijaya. Tidak mengenal Allah karena da'wah belum sampai. Dan perjalanan hidup yang berliku menjadikannya sampai ke jalan hidayah.

Atas berkat rahmat Allah-lah Sufi Wijaya diperjalankan untuk bisa menjemput hidayah-Nya. Meninggalkan kegelapan menuju jalan terang.

Jadi, kalau kita ingin menjadi orang baik, jadilah orang yang baik dengan tulus; jangan modus. Dan janganlah berputus asa dari rahmat Allah.

Orang yang berniat baik akan dipertemukan dengan hal-hal yang baik, orang baik, dan peluang untuk selalu berbuat baik.

4. Bersungguh-sungguh Berhijrah
Kesungguhan Sufi Wijaya untuk berhijrah menjadikan Allah ridha. Dan keridhaan-Nya itu pula yang menjadikan Sufi Wijaya menemukan kehakikian hidup. Hidupnya menjadi lebih hidup. Urip Urup, mati sajroning urip.

Kehakikian Sufi Wijaya melalui proses perjalanan hidup, berguru dan spiritual.

Semua berawal dari niat yang baik. Niat baik itulah yang menjadikannya bertemu dengan orang-orang baik. Termasuk bertemu dengan Maha Gurunya Sufi Wijaya, yaitu Kyai Sujut.
(Bersambung)

RANDOM POST

Memuat

KISAH

SPIRITUAL

JAWANISME

HIKMAH