Panggilan Dakwah di Dunia Preman, inilah Kisah Heroiknya


syintame.blogspot.com

Panggilan terindah bagi setiap mukmin sejati adalah jihad di jalan Allah. Salah satu jihad yang wajib bagi setiap mukmin adalah da’wah. Yaitu jalan mengajak manusia ke jalan yang lurus. Dan cara da’wah pun berjalan sesuai kadar kemampuan seseorang. Yang tidak kalah pentingnya adalah, seorang juru da’wah juga harus paham dengan medan da’wah yang akan ditempuhnya. Seperti kisah berikut, kisah putra Krapyak yang berda’wah di sebuah gank legendaris di Yogyakarta.

Di era 80-an, Gank Joksin merupakan gang yang sangat disegani di Yogyakarta. Joksin adalah kepanjangan dari Pojok Bensin. Nama Joksin sendiri diambil karena pada waktu itu para anggota berandalan tersebut sering nongkrong di warung bensin atau warung pojok bensin di daerah sekitar Kauman Yogyakarta. Dan ada juga yang menamakan mereka Joksin karena mereka adalah segerombolan Joksin (Joko Sinting) yang semua anggotanya bermasalah.

Dalam sepak terjangnya, Gank Joksin tidak bisa dilepaskan kepopulerannya dari seorang keturunan pendiri Pesantren Krapyak,yaitu Gus Endar (Chaidar Muhaimin). Geng Joksin dan Gus Endar sudah sangat lekat dan akrab di telinga pemuda-pemuda Yogyakarta saat itu. Jadi sangatlah wajar jika hal tersebut membuat resah hati keluarga besar Krapyak. Bukannya mondok nyantri, ia malah bergumul dengan orang-orang tidak jelas di jalanan. Dan hal tersebut tidaklah menyurutkan tujuan besar Gus Endar untuk berda’wah di Gank Joksin. "Mereka belum paham. Waktulah yang akan menjawab akan maksut dan tujuan saya bergabung di Gank Joksin" kata Gus Endar.

Seperti gank pada umumnya (waktu itu), para anggotanya tidak bisa lepas dari perbuatan maksiat dan tawuran. Maka dari itulah Gus Endar terjun ke Gank Joksin untuk menyadarkan teman-temannya untuk meninggalkan perbuatan salah tersebut. Dan satu-satunya jalan untuk menyadarkannya, Gus Endar berijtihad harus masuk ke dalam Geng Joksin.

Dari hati ke hati Gus Endar mendekati dan menda’wahi anggota Joksin. Ia mencari tahu sebab musabab teman-temannya larut dalam arus kenakalan.

Tersesat di Jalan yang Lurus


ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (125)

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (16: 125)

Seperti tujuan da’wah yang dibangun, Gus Endar menikmati suka dukanya berda’wah di Geng Joksin. Ia punya keyakinan besar, sekeras apapun hati seseorang, pasti akan luluh bila didekati dengan hikmah.

Dalam realita da’wah di Joksin, Gus Endar pun terkadang harus terlibat kehebohan yang dibuat teman-temannya di Joksin. Terkadang ia pun berdiri di barisan paling depan dalam perkelahian antar gank. Semua itu ia lakukan karena sadar bahwa sebuah keburukan tidak bisa dirubah dengan frontal, tidak hanya cukup dengan wejangan-wejangan yang membabi-buta tanpa melihat aspek da’wah psikologis lainnya. Semua perlu proses dan kesabaran dalam berda’wah.

Sering kali cara kekerasan ditempuh untuk menyelesaikan permasalahan, sering kali pula perang antar gank pun terjadi. Namun dengan kehadiran Gus Endar di Joksin, cara-cara kekerasan pun mulai dihilangkan beliau. Gus Endar tetap masuk dalam barisan Joksin, dan ketika terjadi konflik antar gank; Gus Endar mampu meredamnya hingga tidak terjadi perang antar gank.

Dengan da’wah bil hikmah, akhirnya banyak anggota Geng Joksin yang merapat padanya. Semua itu karena para anggota Joksin merasa nyaman dan mendapat solusi dari setiap keluh kesah yang dicurhatkan pada Gus Endar. Seperti konflik dengan orang tua, merasa tidak nyaman di rumah, hingga masalah percintaan remaja; Gus Endar mampu menjadi pencerah bagi mereka.

Seiring berjalannya waktu, Gus Endar mampu menyadarkan dan mengajak para anggota Gank Joksin ikut mengaji padanya. Setelah posisi da’wahnya kuat, akhirnya Gus Endar memutuskan keluar dari Gank Joksin, dan diikuti sebagian besar teman-temannya.

Setelah keluar dari Gank Joksin, Gus Endar mewadahi eks anggota Joksin dalam majelis taklimnya. Dan nama majelis taklimnya ia beri nama Jam’iyyah Ta’lim Wal Mujahadah Jum’at Pon, “Padang Jagat”. Nama Jum'at Pon diambil dengan pertimbangan historis Gus Endar yang dilahirkan sama persis dengan Eyangnya Mbah Munawir, yaitu di hari Jum'at Pon (Penanggalan Jawa). Dalam majelis tersebut, Gus Endar menggembleng para mantan anggota Gank Joksin tentang akidah, keimanan dan hakikat hidup.

Da’wah Dugem

Di sisi lain, Gus Endar juga merambah dalam da’wah dugem (dunia gemerlap). Dari komunitas tersebut, Gus Endar banyak berkenalan dengan model, peragawati dan segala macam dunia malam lainnya. Dalam da’wah dugem, Gus Endar sangat berhati-hati sekali, karena resiko dan dampak fitnahnya tentu sangat dasyat.

Dengan kebulatan tekat, Gus Endar ingin mewujutkan cita-cita da’wahnya di dunia gemerlap (dugem). Dalam perjalanan da’wah dugemnya, Gus Endar berkenalan dengan seorang perempuan yang berprofesi sebagai penyanyi. Bismillah untuk da’wah, Gus Enda menikahi wanita tersebut. Namun akhirnya pernikahannya terebut kandas di tengah jalan. Kegagalan dalam rumah tangganya inilah yang menyebabkan Gus Endar memutuskan uzlah (mengasingkan diri).

Kurang lebih tiga tahun Gus Endar Uzlah. Ia tinggal dengan mengontrak rumah di sekitar makam kakeknya Mbah Munawir, pendiri Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Setelah mendapat pencerahan batin, akhirnya Gus Endar kembali melanjutkan da’wahnya di khalayak ramai dengan fokus di majelis taklimnya hingga sekarang. Wallahu “alam bishawab.







Ada Rahasia Besar di Balik Anugrah Sakit, Inilah Keajaibannya

Ada Rahasia Besar di Balik Anugrah Sakit, Inilah Keajaibannya


Bina Rasa - Banyak jalan bagi Allah untuk menurunkan rahmat-Nya bagi manusia. Kadang kala Allah menurunkan rahmat-Nya berupa kesenangan duniawi; baik berupa harta yang melimpah, pasangan hidup yang rupawan, status sosial yang tinggi, kekuasaan di tangan, ilmu yang bermanfaat, keluarga yang harmonis dan kesehatan badan yang terjaga. Kesenangan hidup tersebut boleh kita kejar, dan berjiwalah zuhud bila nikmat duniawi tersebut bisa kita raih. Sebaliknya, tetaplah bersyukur bila nikmat duniawi tersebut lepas dari genggaman.

Apapun takdir dari Allah, jika kita bisa menerimanya dengan ridha, maka akan mengundang rahmat-Nya. Begitu pula karunia sakit, nikmatilah rasa sakit tersebut penuh berharap hanya kepada Allah. Dengan begitu, insya Allah sakit yang kita rasakan akan membuka hijab-hijab keutamaan dari Allah.

Tafakur “Sakit”
Dalam hidup ini tentu kita pernah mengalami sakit. Baik sakit ringan, seperti flu, pusing, demam, hingga penyakit berat lainnya yang menyebabkan kita kudu beristirahat di rumah atau di rumah sakit. Dan dalam sejarah peradaban manusia hingga saat ini, hanya Fir’aun yang tidak pernah mengalami sakit (istidrat).

Pada umumnya, orang memandang penyakit yang dideritanya adalah musibah semata. Namun dengan kaca mata keimanan yang elit, anugrah sakit adalah pintu-pintu ma’rifat Allah untuk melesatkan keimanan seorang hamba.

Tidak salah juga jika kita memandang dari kaca mata awam, bahwa anugrah sakit adalah musibah yang mengoyak rasa. Karena orang sakit merasa tersiksa dengan penyakitnya. Orang yang sakit kudu mengeluarkan uang (terkadang cukup banyak) untuk mengobati penyakitnya. Dan orang sakit tidak bisa beraktifitas seperti biasanya, seperti aktifitas bekerja, belajar, bersosialisasi, dan lain-lain.

Secara sunatullah (hukum sebab-akibat), penyakit datang karena ada hal-hal yang menjadi pemicunya. Tubuh manusia sudah diciptakan Allah penuh kesempurnaan dengan kontrol otomatis. Misal, jika kita kurang istirahat akan menyebabkan kelelahan. Kelelahan jiwa raga yang berlarut-larut itulah yang akan menjadi pemicu datangnya suatu penyakit.

Bisa jadi juga karena kita terlambat makan, maka organ-organ kita secara otomatis akan memberikan sinyal kepada kita akan keadan tubuh. Jika sinyal-sinyal tersebut tidak kita hiraukan, maka kita akan menderita sakit. Di situlah Allah SWT menyapa kita, mengingatkan kita untuk hidup teratur menurut kadar kemampuan tubuh kita. Jika tidak sakit, mungkin kita akan terus berjibaku dengan kebiasaan yang salah tentang pola hidup sehat. Akibatnya akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar pada organ tubuh kita. Jadi, terkadang musibah (sakit) yang menimpa seseorang bertujuan untuk mencegah musibah yang lebih besar lainnya.

Dalam kaitan tersebut di atas, perhatikan firman Allah Ta’ala berikut,
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30)

Di sisi lain, terkadang penyakit yang menimpa seorang mukmin adalah murni kehendak Allah tanpa campur tangan manusia (sunatullah). Tujuannya hanya satu, Allah ingin mengangkat derajat yang lebih tinggi kepada hamba-Nya. Mungkin saja seorang mukmin sudah menjalani pola hidup sehat dan pola hidup taqwa, namun masih saja diberikan anugrah sakit. Itulah yang dinamakan sakit sebagai bentuk sapa sayang-Nya.

Dan inilah kabar gembira bagi seorang mukmin ketika ditimpa suatu penyakit,
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid : 22).

“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa seseorang melainkan dengan izin Allah.” (QS. At-Taghaabun : 11).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan semua takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653).

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571).

“Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 5641).

“Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya.” (HR. Muslim no. 2573).

“Bencana senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada kesalahan pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2399, Ahmad II/450, Al-Hakim I/346 dan IV/314, Ibnu Hibban no. 697, dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Mawaaridizh Zham-aan no. 576).

“Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguji hamba-Nya dengan penyakit, sehingga ia menghapuskan setiap dosa darinya.” (HR. Al-Hakim I/348, dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Shohih Jami’is Shoghirno.1870).

“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya.” (HR. Muslim no. 2572).

“Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api neraka.” (HR. Al-Bazzar, dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Silsilah al Hadiits ash Shohihah no. 1821).

“Janganlah kamu mencaci-maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi.” (HR. Muslim no. 2575)

Sikap Batin ketika Sakit
Orang sakit sebenarnya sedang diberi ruang untuk istirahat sejenak dari rutinitas kesehariannya. Istirahat untuk menjadwal kembali pola hidup sehat dan pola hidup bahagia dengan iman di dada. Selain itu, orang sakit mempunyai kesempatan yang jauh lebih banyak untuk merenungkan kembali jalan hidup yang telah dilaluinya. Pada level ini, orang sakit bisa memanfaatkan masa sakitnya untuk menakar diri dan bercermin diri. Baik mengevaluasi pola hidup sehatnya dan pola hidup spiritualnya. Oleh sebab itu, jangan heran jika kita menemukan orang sakit akan nampak lebih shalih dan lebih santun dibandingkan jika ia sehat. Orang-orang seperti ini bukan hanya mendapatkan masa istirahat yang cukup bagi kesembuhan raganya, tetapi juga bisa mengambil hikmah dari sakitnya dengan lebih memahami akan kebesaran Tuhannya.

Tindakan Ketika Sakit
Dalam sebuah Hadis disebutkan, bahwa semua penyakit ada obatnya, kecuali satu; yaitu penyakit tua. Dari situ dapat kita ambil kesimpulan agar kita tidak boleh berputus asa dalam meraih kesembuhan. Teruslah berobat sampai sembuh sesuai kaidah syari’i dan sunatullah yang berlaku. Secara lahiriah berobat melalui wasilah dokter, tabib, herbal, thibbun nabawi dan lain-lain. Dan secara batin pasrah bongkokan (tawakal) kepada Allah Ta’ala. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar dan hanya berserah diri kepada-Nya (pertolongan Allah).

Dalam Hadis lainnya juga diceritakan, bahwa Rasulullah SAW mendoakan seorang wanita yang terkena penyakit ayan agar tidak tersingkap auratnya ketika penyakit ayannya kambuh. Padahal sebelumnya wanita tersebut minta do’a kesembuhan wasilah Rasulullah SAW. Semua itu karena wanita yang mengidap penyakit ayan tersebut memilih bersabar dengan penyakitnya untuk meraih cinta Allah, seperti kabar gembira yang disampaikan Rasulullah SAW. Jadi, dengan begitu boleh bagi kita tidak berobat secara lahiriah (wasilah dokter, tabib, herbal, thibbun nabawi dan lain-lain). Dan hanya mengandalkan tawakal kepada Allah dan rughyah.

Kisah Orang Shalih Ketika Sakit
Seperti uraian di atas, semua orang bisa sakit. Para Nabi, Ulama dan orang-orang shalih pun juga pernah mengalami sakit. Jadi kalau sakit, ya sakit saja. Banyak pilhan bagi kita dalam menyikapi rasa sakit. Seperti kisah Imam Syafi’i ketika mendapat ujian sakit.

Diceritakan, di kala Imam As Syafi dalam keadaan lemah karena sakit, seorang penguasa Mesir menjenguknya. “Wahai As Syafi’i, apakah nikmat sakit selain banyaknya orang yang menjenguk?”

“Wahai saudaraku, apakah nikmat sakit selain mengharap pahala dari sakit dan sesunggunhnya ia merupakan penghapus dosa?” Jawab Imam As Syafi’i.

Di kesempatan lainnya, Imam As Syafi’i menyatakan kepada Rabb-nya ketika ia sakit,”Jika hal ini menjadikan Engkau ridha maka tambahkanlah sakit ini”.

Hingga suatu saat seorang ahli ibadah Idris Al Khaulani mendengar pernyataan Imam As Syafi’i tersebut dan beliau pun mengirim utusan dan menyampaikan,”Wahai As Syafi’i aku dan dirimu bukanlah manusia ahli musibah”.

“Wahai Idris Al Khaulani, berdoalah untukku”, balas Imam As Syafi’i.* (Manaqib Imam As Syafi’i li Al Baihaqi, 2/174, 160)

Dokter juga Bisa Sakit
Secara lahiriah, banyak hal yang menyebabkan seorang juru sembuh bisa sakit. Bisa karena khilaf atau lalai menjalankan pola hidup sehat. Dan bisa juga karena tertular penyakit pasiennya. Untuk itu seorang juru sembuh atau dokter sudah selayaknya memohon pertolongan Allah agar tidak tertimpa atau tertular penyakit pasiennya. Dan inilah tuntunan do’a untuk para juru sembuh yang bisa kita amalkan,

“Alhamdulillahilladzi ‘Aafaanii mimaa ibtalaaka bihi wa faddhalani ‘alaa katsirin mimman khalaqa tafdhila”
Artinya: segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang menimpamu dan memberikan keutamaan kepadaku atas mahluk (lainnya) yang ia ciptakan.
(HR, At-Tirmidzi v/494, lihat juga shahih At-Tirmidzi III/153, Hisnul Muslim)

Dan berikut ini adalah kisah dokter yang menangani Imam Syafi’i di kala sakit. Ketika Imam As Syafi’i menderita sakit, sang murid Al Muzani menjenguknya. “Bagaimana keadaan Anda?”, tanya sang murid.

“Aku memakan rizkiku dan menunggu ajalku”, jawab Imam As Syafi’i.

“Bagaimana jika aku memanggil seorang dokter untuk mengobati Anda?” Izin sang murid. Dan Imam As Syafi’i pun mingizinkannya.

Setelah itu datanglah seorang dokter Nasrani. Imam As Syafi’i yang yang juga memeiliki pengetahuan mengenai kedokteran memeriksa tangan sang dokter. Imam As Syafi’i melihat sang dokter juga sedang sakit.

Setelah peristiwa itu Imam As Syafi’i bersyair,”Telah datang seorang dokter memeriksaku dan aku memeriksanya. Lantas dengan kondisi dokter yang demikian. Ia mengobatiku sepenjang masa sakitnya. Dan termasuk keajaiban, ada orang buta yang menjadi dokter mata”.

Selang beberapa hari ketika sang dokter wafat, Imam As Syafi’i pun bersyair kembali,”Sesungguhnya dokter dengan ilmu dan obatnya tidak mampu melawan ketentuan takdir. Sang dokter tidak lain wafat dengan penyakit serupa yang terkadang bisa disembuhkan di masa sebelumnya. Wafatlah dokter, pasien, pembuat obat, penjualnya maupun yang membelinya”. (Manaqib As Syafi’i li Al Baihaqi, 2/296)

Matinya Orang yang Sakit Perut Adalah Syahid
Bagi seorang muslim, ketika ia mati karena penyakit perut , maka kematiannya adalah syahid. Sengsara Membawa Nikmat. Seperti Hadis berikut ini,

“Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah

Dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang terhitung syahid menurut anggapan kalian?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid.” Beliau menanggapi, “Kalau begitu, syuhada dari kalangan umatku hanya sedikit.” “Bila demikian, siapakah mereka yang dikatakan mati syahid, wahai Rasulullah?” tanya para sahabat. Beliau menjawab, “Siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit tha’un2 maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit perut maka ia syahid, dan siapa yang tenggelam ia syahid.” HR. Muslim

Kewajiban Seorang Muslim Ketika Saudaranya Sakit
Kewajiban utama seorang muslim ketika diberi kelonggaran atau kemampuan oleh Allah ketika melihat ada saudaranya muslim sedang sakit adalah menjenguknya. Dan tak kalah pentingnya adalah memberikan motivasi dan mencukupi apa yang menjadi kesempitannya.

Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sepi; baik sepi karena terdhalimi dan sepi karena anugrah sakit. Dan ma’rifat Allah akan datang pada saat gelapnya kesempitan dan kedukaan, yang tidak diperoleh dalam terangnya nikmat dan kelapangan. Seperti hadis qudsi berikut ini,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya pada hari kiamat Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Hai Anak Adam, Aku Sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.’ Dia berkata. ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana saya menjenguk-Mu, padahal Engkau adalah Rabb semesta alam.’ Dia berfirman, ‘Tidak tahukah kamu bahwa hamba-Ku, fulan, sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Tidak tahukah kamu jika kamu menjenguknya, kamu akan mendapati Aku berada di sisi-Nya.’’ H.R. Muslim, no. 2569

Dan Allah juga memberikan kabar gembira bagi setiap muslim yang menjenguk saudaranya seiman ketika sedang sakit,
“Tiada seorang muslim pun yang membesuk saudaranya yang sakit, melainkan Allah mengutus baginya 70.000 malaikat agar mendoakannya kapan pun di siang hari hingga sore harinya, dan kapan pun di sore hari hingga pagi harinya.” musnad ahmad 2/110

Penutup
Mudah-mudahan bermanfaat. Apapun takdir dari Allah, semoga kita selalu ridha dan berlapang dada menjalani sekenario dari Allah. Dan semoga Allah mengampuni dan menerima taubat kita. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Keajaiban Hidup dengan Memuliakan Al Quran



syintame.blogspot.com


Bina Rasa -
Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi adalah sufi besar yang hidup di kota Baghdad Irak dan wafat di tempat yang sama pada tahun 227 Hijriyah. Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi ini adalah seorang pembesar orang-orang shalih dan cukup akrab di telinga masyarakat pada masanya.

Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi menjadi sumber nasihat, mengadu dan bertanya bagi orang-orang yang mempunyai masalah. Semua itu karena Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi adalah seorang alim yang luas ilmunya dan seorang yang ahli ibadah.

Siang dan malam, Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi tidak merasa lelah dalam melayani umat. Tamunya datang dari golongan orang awam hingga para sultan. Meski demikian, beliau tetap sama dalam memperlakukan setiap orang yang meminta wasilah pertolongannya.

Pernah suatu ketika ada seorang pembesar kerajaan datang kepadanya untuk bertanya, “Wahai Bisyr, saya rindu sekali ingin bertemu denganmu.”

Menanggapi hal tersebut, Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi menjawab, “Tapi sayang sekali, saya tidak ingin melihatmu.”

Penuh kecewa lelaki tamu Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi itupun memohon sekali lagi, “Kalau begitu nasihatilah saya.”

“Menangislah untuk ingat mati!” jawab Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi.

Terhenyak perasaannya lelaki tamu Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi mendengar nasihat sang syekh tersebut. Dia merasa selama ini memang bergelimang dengan harta dan kekuasaan. Dan membuatnya sering lalai untuk melembutkan hatinya. Dirinya merasa sulit menikmati ibadah karena harta dan kekuasan yang sering menjajah nuraninya.

Selang berapa hari, lelaki tamu Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi tersebut mengutus pengawalnya untuk memberikan hadiah kepadanya. Namun tak dinyana, Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi menolaknya, “Saya menolak hadiah dari tuanmu. Dan katakan pada tuanmu, kembalikan hadiah ini pada orang yang telah engkau rampas dari haknya. Kembalikan, sebelum orang yang telah engkau ambil hak-haknya menuntutmu di akhirat kelak.”

Mendengar jawaban dari Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi melalui pengawalnya, lelaki pembesar tersebut menemui lagi Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi dan menangis sejadi-jadinya.

Dengan kejernihan batinnya, Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi mampu menembus kesadaran pembesar tersebut untuk kembali fitrah, “Tinggalkan tamak dunia dalam hidup ini. Janganlah rakus! Janganlah kumpulkan harta tanpa henti! Sementara dirimu tidak tahu untuk siapa harta tersebut engkau tumpuk-tumpuk. Rejeki dan kekuasaan itu Allah yang menentukan. Selalu fakir bagi orang-orang yang rakus harta dan kekuasaan. Dan tampak kaya bagi orang-orang yang qana’ah.”

Jalan Kemuliaan Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi 

Suatu ketika Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi ditanya oleh seorang pemuda yang mendatanginya. “Bagaimana masa lalu anda yang sebenarnya, wahai syekh? Bagaiman bisa sekarang engkau mempunyai keutamaan yang karenya engkau banyak bermanfaat untuk orang banyak. Bahkan seolah-olah engkau ditaklidkan oleh mereka” tanya sang pemuda tersebut.

Dengan bahasa santun dan pembawaan yang tenang, Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi menjawab rasa penasaran pemuda tersebut, “Ini semata-mata karena anugrah Allah. Dulunya aku adalah seorang yang mudah gugup dan penakut. Suatu hari aku berjalan sendirian. Tiba-tiba di tengah jalan aku menemukan secarik kertas bertuliskan bismillahirrahmanirrahiim. Aku memungutnya, membersihkannya dan aku masukan ke dalam kantong bajuku.”

Lebih lanjut Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi menceritakan setelah menemukan kertas bertuliskan basmallah tersebut, “Saat itu aku hanya mempunyai uang sebanyak dua dirham. Selanjutnya aku pergi ke toko, dan kubelikan minyak wangi uangku tersebut. Setelah itu, aku oleskan minyak ghaliah yang baru saja aku beli ke sobekan kertas yang bertuiliskan ayat Al-Qur’an.”

Semakin penasaran pemuda tersebut mendengar kisah Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi, dan meminta sang syekh untuk melanjutkan kisahnya. Syekh Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi melanjutkan kisah spiritualnya, “Sesampai di rumah dan ketika menjelang larut malam, akupun bergegas menuju ke pembaringan. Dalam tidur aku bermimpi, ada seseorang yang berkata kepadaku, “wahai Bisyr, kamu telah mengangkat namaku yang terserak di jalan, dan engkau beri minyak wangi. Sebagai balasanku, maka akan aku harumkan namamu di dunia dan di akhirat kelak.” Setelah kejadian itu, maka terjadilah seperti apa yang engkau lihat seperti sekarang ini.”

Akhir kata, pemuda tersebut puas dan semangat meneladani seperti kisah Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi. Dan pemuda tersebut berpamitan pulang dari rumah Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi.
(Kami sarikan dari Dumu’ Ash-Shalihin) 

Hikmah

Dari kisah di atas, sudah seharusnya kita sebagai muslim untuk bisa memuliakan Al-Qur’an. Baik dengan mempelajarinya, mengamalkannya dan menjaga kemuliaan Al-Qur’an. Dan salah satu tantangan terbesar di jaman sekarang adalah menjaga kemuliaan Al-Qur’an dari pelecehan dan penyesatan kaum kufar dan munafik.

Sungguh , Al-Qur’an hanya disentuh oleh orang-orang yang disucikan. Artinya, kita dianjurkan berwudhu dahulu sebelum memegang mushaf Al-Qur’an. Dan hanya orang-orang yang hatinya bersih yang mampu digetarkan energi Al-Qur’an.

Pintu kemuliaan dan ma’rifat Allah banyak ragamnya. Dan terkadang dari amalan yang sepele namun bernilai mulia di mata Allah.

Siapa yang memuliakan Al-Qur’an, maka Allah akan memuliakan orang tersebut. Sebaliknya, siapa yang merongrong dan melecehkan Al-Qur’an, maka Allah akan menghinakannya. Wallahu ‘alam bishawab.

Sengsara Membawa Nikmat


Bina Rasa - Kisah kesabaran Nabi Ayub AS sudah sangat masyur diceritakan dalam Al-Qur’an. Beliau mendapat ujian luar biasa dengan seluruh badan digerogoti ulat-ulat. Sekujur badannya terasa perih, menahan sakit yang belum sembuh juga. Dengan keimanan level Nabi dan Rasul, Nabi Ayub AS tidak mengeluh sedikitpun atas cobaan yang diterimanya. Bahkan saking sabar dan ridhanya atas takdir Allah tersebut, setiap ulat yang lepas dari tubuhnya, beliau ambil kembali agar tetap hidup dan nyaman di badannya. Dan yang tak kalah hebatnya, kesabaran Nabi Ayub AS adalah tetap ridha dan sabar; meski dicerca dan diusir masyarakat dari kampungya beliau tinggal.

Di lain kisah, kita tengok akan kelalaian dan pudarnya keimanan Tsa’labah yang hidup di jaman Rasulullah SAW. Tsa’labah awal mulanya adalah seorang yang miskin, namun rajin ibadah. Dan setelah dianugrahi harta yang melimpah atas wasilah do’a Nabi Muhammad SAW, Tsa’labah pun menjadi lupa ingatan. Dulu yang gemar beribadah, perlahan dia meninggalkan ketaqwaannya. Lebih parah lagi, Tsa’labah menutup diri dari syari’at mengeluarkan zakat.

Ada satu titik temu dari dua kisah di atas, yaitu bahwsanya manusia tidak akan bisa lepas dari ujian dalam kehidupan ini. Baik itu ujian kenikmatan dan ujian kesusahan.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari disebutkan, “semakin tinggi derajat keimanan seseorang di dunia ini, maka semakin tinggi pula ujian yang ditimpakan padanya.”

Berpijak dari riwayat tersebut (di atas), bergembiralah ketika ujian kehidupan ini menerpa kita. Karena sesungguhnya ujian di dunia ini adalah pintu masuk seorang mukmin untuk memperoleh derajat kemuliaan di sisi Allah; baik di dunia dan di akhirat kelak.

Di lain sisi, bersusah hatilah dengan evaluasi diri, jika kesusahan atau kenikmatan hidup ini kita terima dalam kondisi diri jauh dari hukum-hukum Allah. Karena bisa jadi kesusahan yang kita terima adalah peringatan dari Allah atas kelalaian kita. Dan bisa jadi juga kenikmatan dan kemudahan keduniawian kita adalah murka Allah berbentuk istidrat.

Sikap Batin Menyikapi Ujian dari Allah 

Sebagai seorang mukmin sejati, kita sangat meyakini bahwa apapun (takdir) dari Allah adalah pintu kebaikan. Maka dengan itu masuklah kita dalam kebaikan tersebut; dengan ridha dan sabar. Karena pada hakikatnya diri kita adalah milik Allah.

Dalam sebuah hadis dikabarkan, bahwasanya Allah ridha pada hamba-Nya yang ridha pula atas ketentuan-Nya. Sebaliknya, murka Allah akan menerpa bagi orang-orang yang tidak ridha atau rela atas ujian yang diberikan kepadanya.

Keridhaan seorang mukmin tidak akan muncul, kecuali tawakal sepenuhnya hanya kepada Allah Sang Pemilik Jagat Raya ini. Oleh sebab itu, keridhaan adalah derajat yang sangat tinggi di sisi Allah SWT. Dan balasan yang setimpal bagi orang-orang yang ridha atas kehendak Allah adalah cinta Allah.

Karena ridha pula yang menyebabkan apapun yang datangnya dari Allah adalah kenikmatan sejati. Meski sengsara; sengsara membawa nikmat. Meski bergelimang kemudahan dan kesenanagan; kesenangan membawa nikmat. Semuanya karena ridha. Apapun keputusan takdir Allah adalah kebahagiaan. Orang-orang yang sudah mencapai derajat ridha, hidupnya akan senantiasa lapang dada, ora kagetan dan ora dumeh. Dan sebagai motivasi, perhatiakan sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam Muslim, “Akan merasakan nikmat iman, bagi orang-orang yang merelakan (ridha) Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya.”

Untuk mencapai derajat ridha tidaklah mudah. Karena fitrahnya manusia punya kecenderungan tidak bisa menerima rasa sakit, kesusahan dan kepedihan hidup ini. Dan jalan satu-satunya untuk belajar ridha atas musibah yang menerpa kita adalah dengan bersabar. Insya Allah, dengan berjalannya waktu, kesabaran kita menerima takdir Allah yang tidak mengenakan tersebut akan berbuah dengan keridhaan atas apapun keputusan Allah.

Dengan derajat keridhaan, maka Allah akan membukakan pintu-pintu ketenangan dalam hidup. Dengan ketenangan, akan menjadi sebab terkabulnya do’a-do’a kita. Ketenangan menjadi sumber kebijaksanaan sikap dan lisan kita. Dan yang paling utama, ketenangan itulah yang menjadi kunci ma’rifatullah dan istiqamahnya amal ibadah kita. Lihat firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Fajr Ayat 27-28, “Hai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.”

Kabar Gembira 

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa, apapun dari Allah adalah yang terbaik bagi kita. Jabatan, kehormatan dan kekayaan yang disandang, tidak membuat kita menjadi dumeh dan gumede (besar kepala). Dan dengan nikmat tersebut menjadikan kita lebih tawadhu dan taqarub pada-Nya.

Demikian pula sebaliknya, kemiskinan, penderitaan, kesusahan, rasa sakit tidaklah melunturkan keimanan kita. Sungguh, ma’rifat Allah itu tidak datang pada saat lapang. Ma’rifat Allah sering kali menghampiri hambanya ketika dalam kesempitan dan kesusahan (ridha). Sungguh pahitnnya di dunia ini adalah kemanisan di akhirat kelak, seperti yang disabdakan Rasulullah, “Surga iti diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai. Sedangkan neraka dilingkupi oleh hal-hal yang disenangi.”

Mudah-mudahan Allah menguatkan pundak kita, dan memasukan kita ke dalam barisan muttaqin sejati. Tetap semangat dalam mengarungi bahtera ujian-Nya. Insya Allah sengsara di dunia ini akan membawa nikmat sejati, seperti yang disabdakan Rasulullah dalam hadis riwayat Imam Muslim No. 2573, “Tidaklah menimpa seorang mumkin oleh rasa sakit yang terus-menerus, kepayahan, penyakit dan juga kegalauan (kesedihan); bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” Wallahu 'alam bishawab.


Gara-gara Ayam Jago, Ulama Terkenal ini Akhirnya Bertaubat

Ayam Jago


Bina Rasa -
Al kisah, Said bin Al Kufi adalah seorang sufi yang faqih dengan do’a dan tangisannya dalam keistiqamahannya qiyamul lail. Dalam meniti jalan taqwa, Said bin Al Kufi selalu berusaha mendawamkan dirinya untuk berdzikir setelah shalat subuh hingga matahari terbit.

Agar bisa terjaga di waktu qiyamul lail, Said bin Al Kufi memelihara seekor ayam jantan untuk membantunya bangun melaksanakan shalat malam. Dan pada suatu malam, ayam jantan kesayangannya tersebut tidak berkokok . Akibatnya Said bin Al Kufi tertidur tidak bisa melaksanakan qiyamul lail. Dengan kemarahan yang menusuk rasa, Said bin Al Kufi melaknat ayam jagonya tersebut. Ayam jago Said bin Al Kufi tersebut mati seketika.

Setelah kejadian tersebut, Said bin Al Kufi menyesal karena telah mendoakan keburukan bagi ayam jagonya yang telah berjasa selama ini untuk membantunya melaksanakan shalat malam. Dengan penyesalan yang sangat mendalam (taubat nasuha), Said bin Al Kufi berjanji tidak akan berdoa keburukan pada siapapun.

Dampak terbesar setelah kematian ayam jagonya, Said bin Al Kufi sangat sulit memejamkan mata di malam hari (imsonia lover). Dan hingga suatu saat anak perempuannya bertanya pada Said bin Al Kufi, “Mengapa tiap malam ayah tidak tidur.” Said bin Al Kufi pun menjawab, “Sesungguhnya jahanam tidak membiarkanku tidur, duhai anakku.”

Demikianlah kisah Sufi Said bin Al Kufi yang saya rangkumkan dari Al Kawakib Ad Duriyyah, 1/302. 303. Dan di akhir hayatnya, Said bin Al Kufi wafat dengan dipenggal kepalanya oleh Al Hajaj. Meski kepala telah terpisah dari badannya, ulama besar ini (Said bin Al Kufi) masih mampu menyeru kalimat tauhid. Wallahu ‘alam bishawab.

KISAH

SPIRITUAL

JAWANISME

HIKMAH