Inilah Jurus Ampuh Seorang Ahli Maksiat untuk Membuka Pintu Langit, dan Membuat Allah Jatuh Cinta padanya





Bina Rasa - Selang berapa waktu setelah berzina, wanita muda yang telah bersuami tersebut menangis menyesali perbuatan terkutuknya. Ia kalah akan kuasa nafsu dan tipu daya setan yang menggelincirkan keimanannya. Hidupnya terasa sempit. Perasaan berdosa meluluh lantahkan ketenangan jiwanya.

“Yaa Allah, betapa kotornya aku.” ratapnya menyesali akan perbuatannya.

Dengan langkah gontai penuh kegalauan, perempuan tersebut mendatangi Rasulullah SAW. Di hadapan Rasulullah SAW, wanita tersebut tiba-tiba berteriak, “Yaa Rasulullah, aku telah berzina. Sucikanlah aku, wahai Nabi Allah.”

Di hadapan perempuan tersebut, Rasulullah diam seribu bahasa. Malah Rasulullah memalingkan wajahnya terhadap perempuan yang sedang gundah gulana tersebut. Dan perempuan tersebut tidak mau menyerah akan sikap cuek Rasulullah. Meski beberapa kali ia mencoba, akhirnya Rasulullah tetap bersikap diam dan meninggalkannya.

Setelah beberapa hari berlalu, ketika Rasulullah duduk di majelisnya, perempuan pezina tersebut mendatangi lagi Nabi SAW, dan memohon pencerahannya, “Yaa Rasulullah, sucikanlah aku!”

Seperti di awal, Rasulullah tetap bersikap diam dan memalingkan wajahnya. Dan perempuan itu juga tetap kekeh tak mempedulikan akan sikap Rasulullah SAW yang acuh tak acuh terhadapnya.

“Yaa Rasulullah, mungkin engkau akan mengembalikanku sebagaimana engkau mengembalikan Ma’iz. Demi Allah aku sedang mengandung anak hasil dari perbuatan berzina.” Perempuan tersebut terus berteriak minta respon Rasulullah SAW.

Mendengar ucapan itu, Rasulullah SAW akhirnya menoleh dan berkata, “Engkau akan tetap dirajam sampai anakmu lahir.”

Perempuan tersebut berbunga-bunga mendengar respon Rasulullah SAW. Meski ia tetap tidak akan bisa lolos dari hukum rajam, dan anaknya tetap selamat. Ia sadar atas konsekuensi perbuatan zinanya. Dan ia telah siap untuk semua itu, demi meraih ampunan Allah yang seutuhnya.

Waktu terus berjalan, tibalah saatnya ia melahirkan anak hasil mesumnya. Setelah melahirkan, perempuan tersebut bergegas menemui Rasulullah dengan membawa bayinya. Ia akan memenuhi janjinya untuk menerima hukuman rajam.

“Aku telah melahirkan. Seperti permintaanku dulu, sucikanlah aku, Yaa Rasulullah!” perempuan tersebut kembali memohon pada Sang Baginda Nabi SAW.

Rasulullah memandang penuh kasih akan kondisi perempuan yang berjalan di hamparan taubatan nasuha. Wajah letih dan kepayahan yang luar biasa nampak jelas dari raut muka perempuan tersebut.

Nabi SAW memandang bayi mungil yang dibawa wanita tersebut. Oleh karena itu, Nabi SAW tidak tega melihat kondisi sang jabang bayi. “Pergilah, susuilah anakmu hingga engkau menyapihnya.” Sabda Rasulullah SAW.

Perempuan yang sudah pasrah akan ketentuan Tuhannya tersebut lantas pergi bersama bayinya. Ia memenuhi perintah Rasulnya untuk merawat buah hatinya hingga menyapih selama dua tahun ke depan.

Setelah dua tahun merawat bayinya, waktu telah tiba baginya untuk melaksanakan perintah Rasulullah. Ia segera berkemas menghadap Rasulullah bersama anaknya. Dengan sepenuh cinta, ia berikan sepotong roti kepada anaknya. Naluri keibuannya muncul, ia merasakan sesak yang mengiris jiwanya. Nafsunya bergejolak, tak tega rasanya kudu meninggalkan anaknya. Apa boleh buat, ia tidak boleh janji di atas ingkar. Rasulullah SAW dan Allah harus di atas segalanya dengan penuh kerelaan.

Dengan iman yang membara, perempuan tersebut memenuhi ikrar sucinya, “Yaa Rasulullah, aku telah menyapihnya, dan anakku inipun telah mendapatkan haknya atasku. Untuk itu, sucikanlah aku, wahai Nabi Allah!”

Akhirnya... Sebelum merajam perempuan tersebut, Rasulullah memerintahkan pada salah satu sahabatnya untuk membawa pergi anak dari perempuan yang akan menjalani hukuman rajam tersebut.

Setelah itu, Rasulullah memerintahkan untuk segera dilaksanakan hukum rajam. Perempuan yang beruntung tersebut dikubur sampai dadanya. Dan para sahabat lainnya ikut menjadi eksekutor hukuman rajam, yaitu dengan melempari batu hingga ia benar-benar telah mati.

Akhirnya usai sudah pelaksanaan hukuman rajam bagi perempuan pezina yang telah menempuh jalan Tuhannya (taubat). Setelah dimandikan, dan sebelum menyalatkan perempuan yang telah disucikan tersebut, Rasulullah bersabda ke pada para sahabatnya, “Perempuan ini telah bertaubat dengan taubatan yang sesungguhnya. Seandainya tujuh puluh penduduk Madinah menerima taubatnya, niscaya mereka akan mendapatkan bagiannya. Ia mati dalam keridhaan Allah, karena kesungguhannya dalam bertaubat.”

Demikianlah jalan suci perempuan pezina, dan dalam hadis lainnya yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim juga dijelaskan, “Wahai Umat Muhammad, tidak seorangpun yang dicemburui oleh Allah (dari) hamba-Nya yang laki-laki dan perempuan yang berzina yang telah bertaubat. Wahai Umat Muhammad, seandainya engkau tahu apa yang aku tahu, niscaya engkau akan tertawa sedikit dan menangis yang banyak.”

Wallahu ‘alam bishawab.

(Disarikan dari Innaha Maalikah; Dr. Muhammad bin Abdul Rahman Al-Rafi’i)

Hikmah
Tidak ada manusia di muka bumi ini yang sempurna. Manusia adalah tempat blegedekannya salah dan dosa. Salah dan tergelincir dari maksiat adalah seuatu yang lumrah bagi setiap insan. Selamat dari dosa dan kesalahan tidak dapat dimiliki, kecuali para Nabi.

Demikianlah keadaan manusia yang serba lemah dan serba kurang, seperti dalam firman-Nya:

“Manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah.” Q.S. An-Nisa Ayat 28.

“sesungguhnya manusia itu sangat dhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” Q.S. Ibrahim Ayat 34.


Seperti kisah di atas, betapa lemahnya manusia yang tak bisa menahan bujuk rayu nafsu setan, yaitu dengan berzina. Ia mengingkari nikmat Tuhannya dengan berbuat dhalim dan tidak bersyukur. Keluarga yang diberkahi akhirnya hancur berantakan karena perselingkuhan.

Rasulullah juga menegaskan kembali akan kelemahan dan kekurangan kita sebagai manusia, “Setiap anak Adam (manusia) pasti sering berbuat kesalahan. Dan sebaik-baik manusia orang yang berbuat kesalahan adalah yang mau bertaubat.” H.R. Ibnu Majah No. 4251.

Dari hadis tersebut, Rasulullah SAW tidak mengatakan sebaik-baik manusia yang tidak pernah berbuat salah, karena memang manusia adalah makhluk yang lemah dan pasti bisa berbuat salah (terjaga dari kesalahan); kecuali para Nabi.

Di sisi lain, Allah juga memberikan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dengan jalan taubatan nasuha. Sunggu, hikmah adalah milik orang-orang yang tersesat. Untuk meraih ridha Allah tersebut, jalan pertama dan paling utama adalah tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah! Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa-dosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Q.S. Az-Zumar ayat 53.
Oleh karenanya, bila kita terjerumus berbuat kesalahan dan dosa, maka jalan taubat harus segera kita gelorakan. Seperti dalam firman Allah Q.S. Ali Imran Ayat 133, “Bersegeralah dalam ampunan dari tuhan kalian, dan Surga yang seluas langit dan bumi untuk disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Dengan kesungguhan dan keridhaan Allah, taubat bisa menjadi jalan meraih cinta Allah. Seperti halnya kisah perempuan pezina di atas, dengan bersungguh-sungguh bertaubat, akhirnya Allah pun ridha dan menempatkannya dalam kedudukan yang mulia di dunia dan di akhirat. Mengenai hal tersebut, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah sangat bergembira terhadap taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan salah satu di antara kalian yang kehilangan untanya di padang pasir kemudian menemukannya kembali.” H.R. Muslim No. 2747.

Taubat juga merupakan amalan yang paling digemari para orang-orang shalih. Karena sesungguhnya istighfar dan taubat adalah ibadah; sebagai pengakuan akan kelemahan kita sebagai manusia. Dan para nabi yang jelas-jelas ma’shum juga mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah-pun juga bertaubat. Mereka juga mengajak umatnya untuk bersegera dalam ampunan (cinta ) Allah dengan bertaubat.

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan beristighfarlah kepada-Nya. Sesungguhnya aku aku bertaubat kepad-Nya dalam sehari seratus kali.” H.R. Muslim No, 2702.

“Hai kaumku, mohonlah ampun pada Tuhanmu, lalu bertaubatlah kepada-Nya...........” Q.S. Hud Ayat 52.


Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mendawamkan amalan istighfar dan taubat dalam mengarungi kehidupan ini. Tidak usah menunggu berbuat salah untuk memperbanyak istighfar dan taubat. Karena Nabi, dan orang shalih juga selalu beristighfar dan bertaubat sebagai bentuk sembah rasa (hamba yang lemah). Janganlah kita termasuk orang-orang yang merugi, ketika taubat sudah ditutup penerimaan-Nya oleh Allah (datang sakaratul maut). Perhatikan firman Allah berikut, “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah apabila ajal telah datang.....” Q.S. An-Nisa 18.

Hakikat Taubat

Lisan mengakui akan kelemahan kita sebagi manusia dan juga karena dosa-dosa yang telah kita lakukan itulah istighfar. Namun yang paling utama adalah amalan hati, yaitu pengakuan diri dan penyaksian diri; berjanji tidak akan melakukan perbuatan dosa lagi (itulah taubat).

Jumhur ulama menyepakati, bertaubat dari segala macam dosa hukumnya wajib. Jika maksiatnya langsung kepada Allah, maka taubat dan memperbaharui syahadat adalah syarat mutlaknya. Namun jika ada sangkut pautnya dengan manusia dalam melakukan kedhaliman dan maksiat, maka syaratnya bertauabat ada empat hal. Yaitu berjuang menjauhi maksiat tersebut, menyesali perbuatannya, berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatan durjananya dan mengembalikan hak-hak orang yang telah kita dhalimi (disertai permintaan maaf).

Tanda-tanda Allah Menerima Taubat Hamba-Nya

Seseorang yang telah berjuang menempuh jalan taubat dengan bersungguh-sungguh, maka Allah akan menerima taubatan nasuha hamba-Nya tersebut. Namun sering kali Allah belum bisa menerima taubatan hamba-Nya karena syarat-syarat bertaubat belum terpenuhi. Adakalanya juga Allah sudah menerima taubatan nasuha seorang hamba, namun karunia rahmat-Nya masih digantung di antara langit dan bumi. Semua itu Allah lakukan untuk menguji kesungguhan hati hamba-Nya dalam menempuh jalan taubat. Itu pula yang sering membuat seorang hamba hampir-hampir berputus asa dari rahmat Allah. Namun keteguhan imannya untuk bertaubat itulah yang membuat ia sampai pada rahmat Allah.

Kabar gembira bahwa Allah sudah menerima taubat hamba-Nya, di antara tanda-tandanya adalah sebagai berikut:

1. Ketenangan batin
Hati seorang yang menempuh jalan taubat akan merasakan ketenangan batin yang luar biasa. Semua itu karena Allah Yang Maha Suci bisa menembuskan sebagian cahaya-Nya ke dalam jiwa-jiwa yang suci. Ibarat kata, frekuensi Allah dan kita bisa nyambung. Allah Yang Maha Suci hanya bisa didekati dengan segala yang suci. Taubatan nasuha itulah penyuci bagi jiwa-jiwa yang tercemar.

2. Optimis Dalam Memandang Kehendak Tuhannya

Bagaimana tidak optimis, jika taubatan nasuhanya tersebut mampu membuat Allah mencurahkan sebagian nikmatnya dalam kehidupannya. Terutama nikmat beribadah kepada-Nya. Hanya mengingat Allah jiwa akan selalu optimis dalam memahami kehendak Allah.

3. Semangat Menuntut Ilmu dan Beribadah
Ia sadar bahwa dosa-dosa yang ia lakukan karena kebodohan dan kelemahan imannya. Maka dari itu, tidak ada jalan lain agar bisa selamat dari perbuatan dosa dengan selalu memperbaharui iman dan taqwanya dengan jalan berilmu dan taqarub ilallah.

4. Tawadhu
Dengan kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, maka ia akan selalu rendah hati pada sesama manusia. Selalu melibatkan Allah dalam segala hal, dan selalu memohon pertolongan-Nya untuk bisa terhindar dari perbuatan maksiat.

5. Zuhud
Pangkal kehinaan manusia dalam perbuatan dosa adalah nafsu (aluwamah). Maka dari itu jalan zuhud akan menempa bagi orang-orang yang sudah diridhai Allah. Baginya dunia ini hanyalah jalan mengenal Allah sebagai bekal pertemuan sejatinya kelak di akhirat. Dunia ini cukuplah sampai di tangan, tidak sampai menjajah hatinya. Dan iapun menjadi lebih piawai dengan nafsunya, yaitu dengan memenuhi kebutuhannya dan mengendalikan keinginannya. Karena sesungguhnya batu penghalang bagi manusi (dan jin) bertemu dengan Tuhannya adalah nafsu (aluwamah).

6. Ridha

Dengan suka cinta ia akan menempatkan Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya. Jalan ketaqwaan itulah yang akan menyelamatkannya dari perbuatan dosa. Dan apapun kehendak Tuhannya ia akan selalu ridha, minimal bersabar dengan ketentuan Rabb-Nya.

7. Do’a Lebih Manjor
Kalau Allah sudah ridha, hijab-hijab Allah akan terbuka bagi setiap hamba-Nya yang bertaubat. Do’anya pun Allah juga ridha.

8. Allah Mencukupi Kebutuhanya

Allah Maha Mengetahui apa yang sangat dibutuhkan bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat. Kadang dipenuhi karunia sehat terbebas dari belenggu penyakit. Dicukupi urusan materinya, ilmu dan lain-lain (sesuai kehendak Allah).

9. Cinta Allah
Sungguh, Allah sangat mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat (seperti kisah di atas)

Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan bagi kita untuk selalu beristighfar dan bertaubat kepada-Nya setiap saat. Dan semoga Allah ridha dengan menerima taubat kita, juga menutupi semua aib-aib kita. Aamiin.

Wallahu ‘alam bishawab.

Melesat ke Langit Ketujuh dengan Dua Sayap Taubat



Bina Rasa - Jabir bin Abdullah Al-Anshari meriwayatkan kisah hidup seorang pemuda Anshar yang bernama Tsa’labah bin Abdul Rahman. Sejak masuk Islam ia selalu setia melayani rasulullah SAW dengan cekatan.

Suatu ketika Rasulullah SAW mengutusnya untuk suatu keperluan. Saat sedang menjalankan tugas tersebut, kebetulan ia melewati sebuah rumah salah seorang sahabat Anshar. Tanpa sengaja tiba-tiba ia melihat wanita penghuni rumah tersebut sedang mandi. Sekonyong-konyong ia ketakutan banget. Ia sangat khawatir wahyu akan turun kepada Kanjeng Nabi SAW berkaitan dengan perbuatannya tersebut. Maka dengan ketakutan yang over load ia berlari menjauhi pusat kota. Ketika sampai di pegunungan yang berada di kota antara Madinah dan Mekah, ia pun mendakinya.

Dari kejadian tersebut, Junjungan Nabi Agung Muhammad SAW sangat merasa kehilangan. Hal tersebut berlangsung selama empat puluh hari. Dan akhirnya Allah mengutus Jibril untuk menyampaikan wahyu, “wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu memberikan salam dan berfirman kepadamu yang isinya, bahwa seorang lelaki dari umatmu berada di antara pegunungan ini dan telah memohon perlindungan kepada-Ku.”

Mendengar wahyu tersebut, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Umar dan Salman, berangkatlah sekarang, dan ajaklah kembali Tsa’labah bin Abdul Rahman kemari.”

Kedua sahabat Rasulullah SAW pun segera menyusuri jalan perbukitan yang ada di Madinah, hingga bertemu dengan seorang pengggembala yang bernama Dzufafah. Umar pun bertanya padanya, “Apakah engkau tahu akan seorang pemuda yang tinggal di antara dua pegunungan ini, hai Dzufafah?”

“Apakah yang engkau maksut adalah seorang yang lari dari jahanam?” jawab Dzufafah.

Umar menimpali pertanyaan lagi, “Dari mana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka jahanam?”

“Aku tahu karena setiap malam mendengar teriakan di antara dua pegunungan tersebut dengan sangat lantangnya. Aku mendengar teriakannya, “Wahai Allah, mengapa mengapa tidak Engkau cabut saja nyawaku, Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkanku mendapatkan keputusan?” jawab Dzufafah menjelaskan.

“Nah itu dia yang sedang kami cari. Hmmm...”sahut Umar.

Setelah itu berangkatlah mereka menemui Tsa’labah. Ternyata benar, ketika hari menjelang malam, Tsa’labah keluar. Umar kemudian menghampirinya dan memeluknya penuh kasih, seraya membujuknya untuk kembali kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Dan Tsa’labah pun berkata kepada para sahabat yang menemuinya tersebut, “Wahai Umar, adakah Rasulullah mengetahui dosaku?”

“Aduh... Maaf saya tidak tahu. Hanya saja kemarin beliau menyebut-nyebut namamu dan memerintahkan kami untuk menjeputmu” jawab Umar.

“Aku mohon, janganlah engkau membawaku menghadap Rasulullah, kecuali bila beliau sedang shalat.” Pinta Tsa’labah.

Akhirnya Tsa’labah menemui Rasulullah ketika beliau shalat. Dan Tsa’labah langsung ikut shalat berjamaah bersama Rasulullah. Mendengar bacaan Al-Qur’an Rasulullah dalam shalat, tiba-tiba Tsa’labah jatuh pingsan.

Setelah selesai shalat, Rasulullah segera menghampiri Tsa’labah. Tsa’labah akhirnya siuman di samping Rasulullah.

Rasulullah pun bertanya pada Tsa’labah, “Sahabatku, apa yang menyebabkan engkau meninggalkanku?”

“Dosaku, Yaa Rasulullah.” Tsa’labah menjawab dengan lemas.

Rasulullah akhirnya memberikan nasihat kepada Tsa’labah, “Bukankah pernah kutunjukan kepada kalian tentang ayat yang dapat menghapus dosa dan kesalahan dalam Al-Qur’an ayat 201 yang artinya, Yaa Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

“Benar, yaa Rasulullah. Tapi dosaku menggunung tinggi.” Jawab Tsa’labah.

“Akan tetapi kalam Allah itu lebih tinggi.” Tegas Rasulullah.

Selang beberapa hari Tsa’labah jatuh sakit. Dan Sahabat Salman mengabarkan sakit kerasnya Tsa’labah pada Rasulullah.

Mendengar kabar tersebut, Rasulullah langsung menjenguk Tsa’labah. Ketika menjenguk Tsa’labah, Rasulullah meletakan kepala Tsa’labah di pangkuan beliau. Dan Tsa’labah malah berusaha menggeser kepalanya dari pangkuan Rasulullah.

Melihat situasi tersebut Rasulullah pun bertanya pada Tsa’labah, “Mengapa engkau geser kepalamu dari pangkuanku?”

“Karena kepala ini penuh dengan dosa, tidak pantas berada di pangkuan kekasih Allah.” Tsa’labah menjawab dengan penuh duka.

“Dan apa yang engkau rasakan lagi?” Rasulullah bertanya kembali.

“Seperti ada gerumutan semut-semut di antara tulang, daging, dan kulitku.” Jawab Tsa’labah menahan sakit.

“Lalu apa yang engkau inginkan, wahai sahabatku Tsa’labah?” Rasulullah bertanya penuh kasih.

“Ampunan dari Allah.” Jawab Tsa’labah dengan mantapnya.

Bersamaan dari kejadian tersebut, turunlah Jibril menemui Rasulullah, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanku membacakan salam untukmu, dan berfirman kepadamu: Andaikan hamba-Ku ini membawakan kesalahan sepenuh bumi. Aku pun akan menyambutnya dengan ampunan sepenuh bumi pula.”

Rasulullah kemudian memberitahukan wahyu tersebut kepada Tsa’labah. Seketika itu juga Tsa’labah terpekik gembira. Dan tidak lama kemudian Tsa’labah meninggal dunia.

Rasulullah SAW langsung memerintahkan para sahabat untuk segera memandikan dan mengkafani jenasah Tsa’labah. Dan ketika selesai menyalatkan Tsa’labah, Rasulullah berjalan dengan berjingkat-jingkat.

Setelah selesai pemakaman, salah seorang sahabat bertanya kepada beliau, “Yaa Rasulullah, mengapa tadi engkau berjalan dengan berjingkat-jingkat?”

“Demi Dzat yang mengutusku  dengan benar sebagai Nabi, sungguh aku tidak mampu meletakan telapak kakiku di atas bumi. Karena Malaikat yang ikut melayat pemakaman Tsa’labah sangatlah buanyak.”

Hikmah

Masya Allah. Begitu takutnya akan satu dosa, sang sahabat pilihan tersebut menghukum dirinya sendiri dengan berat. Hukuman dengan sakit keras itu pun belum selesai juga, sampai ia mendapat jaminan bahwa ia benar-benar telah diampuni. Hingga Allah memberitahukan langsung ampunan-Nya di dunia khusus kepadanya. Bahkan, penyesalannya terhadap dosa kecil yang tidak ia sengaja tersebut mampu menggetarkan langit dengan melibatkan Jibril dan para Malaikat dalam jumlah besar khusus memberikan penghormatan dan do’a secara langsung di akhir hayatnya.

Itulah sayap taubat yang pertama, yaitu takut terhadap dosa. Sekecil apapun kesalahan dan dosanya.

Sayap taubat yang kedua adalah tetap optimis akan ampunan Allah. Kisah tsa’labah di atas mengajarkan kepada kita, taubat tidak akan bisa terbang menembus langit dengan satu sayap, yaitu rasa takut (khauf). Sebab dengan hanya satu sayap tersebut justru akan memtahkan harapan kita terhadap rahmat Allah (ampunan). Hal tersebut sama saja menganggap Allah jahat terhadap hamba-Nya. Seolah-olah Allah tidak mengampuni hamba-Nya. Oleh karena itu, taubat kudu terbang bersama sayap lainnya, yaitu harapan (raja’).

Sebesar apapun dosa-dosa yang telah dilakukan seorang hamba, ia tidak boleh membuat dosa lainnya dengan sikap pesimistis. Karena Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Seperti dalam firman-Nya:

“Katakanlah, hai hamba-hambaku yang melampaui batas atas diri mereka sendiri. Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesunggunya Allah mengampuni atas semua dosa-dosa. Sesungguhnya dia Maha Pengamnpun lagi Maha Penyayang.” Q. S. Az-Zumar ayat 53.

Wallahu ‘alam bishawab.

(Sumber: Kajian Ustad Fikasyad - Hidayatullah)

Panggilan Dakwah di Dunia Preman, inilah Kisah Heroiknya


syintame.blogspot.com

Panggilan terindah bagi setiap mukmin sejati adalah jihad di jalan Allah. Salah satu jihad yang wajib bagi setiap mukmin adalah da’wah. Yaitu jalan mengajak manusia ke jalan yang lurus. Dan cara da’wah pun berjalan sesuai kadar kemampuan seseorang. Yang tidak kalah pentingnya adalah, seorang juru da’wah juga harus paham dengan medan da’wah yang akan ditempuhnya. Seperti kisah berikut, kisah putra Krapyak yang berda’wah di sebuah gank legendaris di Yogyakarta.

Di era 80-an, Gank Joksin merupakan gang yang sangat disegani di Yogyakarta. Joksin adalah kepanjangan dari Pojok Bensin. Nama Joksin sendiri diambil karena pada waktu itu para anggota berandalan tersebut sering nongkrong di warung bensin atau warung pojok bensin di daerah sekitar Kauman Yogyakarta. Dan ada juga yang menamakan mereka Joksin karena mereka adalah segerombolan Joksin (Joko Sinting) yang semua anggotanya bermasalah.

Dalam sepak terjangnya, Gank Joksin tidak bisa dilepaskan kepopulerannya dari seorang keturunan pendiri Pesantren Krapyak,yaitu Gus Endar (Chaidar Muhaimin). Geng Joksin dan Gus Endar sudah sangat lekat dan akrab di telinga pemuda-pemuda Yogyakarta saat itu. Jadi sangatlah wajar jika hal tersebut membuat resah hati keluarga besar Krapyak. Bukannya mondok nyantri, ia malah bergumul dengan orang-orang tidak jelas di jalanan. Dan hal tersebut tidaklah menyurutkan tujuan besar Gus Endar untuk berda’wah di Gank Joksin. "Mereka belum paham. Waktulah yang akan menjawab akan maksut dan tujuan saya bergabung di Gank Joksin" kata Gus Endar.

Seperti gank pada umumnya (waktu itu), para anggotanya tidak bisa lepas dari perbuatan maksiat dan tawuran. Maka dari itulah Gus Endar terjun ke Gank Joksin untuk menyadarkan teman-temannya untuk meninggalkan perbuatan salah tersebut. Dan satu-satunya jalan untuk menyadarkannya, Gus Endar berijtihad harus masuk ke dalam Geng Joksin.

Dari hati ke hati Gus Endar mendekati dan menda’wahi anggota Joksin. Ia mencari tahu sebab musabab teman-temannya larut dalam arus kenakalan.

Tersesat di Jalan yang Lurus


ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (125)

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (16: 125)

Seperti tujuan da’wah yang dibangun, Gus Endar menikmati suka dukanya berda’wah di Geng Joksin. Ia punya keyakinan besar, sekeras apapun hati seseorang, pasti akan luluh bila didekati dengan hikmah.

Dalam realita da’wah di Joksin, Gus Endar pun terkadang harus terlibat kehebohan yang dibuat teman-temannya di Joksin. Terkadang ia pun berdiri di barisan paling depan dalam perkelahian antar gank. Semua itu ia lakukan karena sadar bahwa sebuah keburukan tidak bisa dirubah dengan frontal, tidak hanya cukup dengan wejangan-wejangan yang membabi-buta tanpa melihat aspek da’wah psikologis lainnya. Semua perlu proses dan kesabaran dalam berda’wah.

Sering kali cara kekerasan ditempuh untuk menyelesaikan permasalahan, sering kali pula perang antar gank pun terjadi. Namun dengan kehadiran Gus Endar di Joksin, cara-cara kekerasan pun mulai dihilangkan beliau. Gus Endar tetap masuk dalam barisan Joksin, dan ketika terjadi konflik antar gank; Gus Endar mampu meredamnya hingga tidak terjadi perang antar gank.

Dengan da’wah bil hikmah, akhirnya banyak anggota Geng Joksin yang merapat padanya. Semua itu karena para anggota Joksin merasa nyaman dan mendapat solusi dari setiap keluh kesah yang dicurhatkan pada Gus Endar. Seperti konflik dengan orang tua, merasa tidak nyaman di rumah, hingga masalah percintaan remaja; Gus Endar mampu menjadi pencerah bagi mereka.

Seiring berjalannya waktu, Gus Endar mampu menyadarkan dan mengajak para anggota Gank Joksin ikut mengaji padanya. Setelah posisi da’wahnya kuat, akhirnya Gus Endar memutuskan keluar dari Gank Joksin, dan diikuti sebagian besar teman-temannya.

Setelah keluar dari Gank Joksin, Gus Endar mewadahi eks anggota Joksin dalam majelis taklimnya. Dan nama majelis taklimnya ia beri nama Jam’iyyah Ta’lim Wal Mujahadah Jum’at Pon, “Padang Jagat”. Nama Jum'at Pon diambil dengan pertimbangan historis Gus Endar yang dilahirkan sama persis dengan Eyangnya Mbah Munawir, yaitu di hari Jum'at Pon (Penanggalan Jawa). Dalam majelis tersebut, Gus Endar menggembleng para mantan anggota Gank Joksin tentang akidah, keimanan dan hakikat hidup.

Da’wah Dugem

Di sisi lain, Gus Endar juga merambah dalam da’wah dugem (dunia gemerlap). Dari komunitas tersebut, Gus Endar banyak berkenalan dengan model, peragawati dan segala macam dunia malam lainnya. Dalam da’wah dugem, Gus Endar sangat berhati-hati sekali, karena resiko dan dampak fitnahnya tentu sangat dasyat.

Dengan kebulatan tekat, Gus Endar ingin mewujutkan cita-cita da’wahnya di dunia gemerlap (dugem). Dalam perjalanan da’wah dugemnya, Gus Endar berkenalan dengan seorang perempuan yang berprofesi sebagai penyanyi. Bismillah untuk da’wah, Gus Enda menikahi wanita tersebut. Namun akhirnya pernikahannya terebut kandas di tengah jalan. Kegagalan dalam rumah tangganya inilah yang menyebabkan Gus Endar memutuskan uzlah (mengasingkan diri).

Kurang lebih tiga tahun Gus Endar Uzlah. Ia tinggal dengan mengontrak rumah di sekitar makam kakeknya Mbah Munawir, pendiri Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Setelah mendapat pencerahan batin, akhirnya Gus Endar kembali melanjutkan da’wahnya di khalayak ramai dengan fokus di majelis taklimnya hingga sekarang. Wallahu “alam bishawab.







Ada Rahasia Besar di Balik Anugrah Sakit, Inilah Keajaibannya

Ada Rahasia Besar di Balik Anugrah Sakit, Inilah Keajaibannya


Bina Rasa - Banyak jalan bagi Allah untuk menurunkan rahmat-Nya bagi manusia. Kadang kala Allah menurunkan rahmat-Nya berupa kesenangan duniawi; baik berupa harta yang melimpah, pasangan hidup yang rupawan, status sosial yang tinggi, kekuasaan di tangan, ilmu yang bermanfaat, keluarga yang harmonis dan kesehatan badan yang terjaga. Kesenangan hidup tersebut boleh kita kejar, dan berjiwalah zuhud bila nikmat duniawi tersebut bisa kita raih. Sebaliknya, tetaplah bersyukur bila nikmat duniawi tersebut lepas dari genggaman.

Apapun takdir dari Allah, jika kita bisa menerimanya dengan ridha, maka akan mengundang rahmat-Nya. Begitu pula karunia sakit, nikmatilah rasa sakit tersebut penuh berharap hanya kepada Allah. Dengan begitu, insya Allah sakit yang kita rasakan akan membuka hijab-hijab keutamaan dari Allah.

Tafakur “Sakit”
Dalam hidup ini tentu kita pernah mengalami sakit. Baik sakit ringan, seperti flu, pusing, demam, hingga penyakit berat lainnya yang menyebabkan kita kudu beristirahat di rumah atau di rumah sakit. Dan dalam sejarah peradaban manusia hingga saat ini, hanya Fir’aun yang tidak pernah mengalami sakit (istidrat).

Pada umumnya, orang memandang penyakit yang dideritanya adalah musibah semata. Namun dengan kaca mata keimanan yang elit, anugrah sakit adalah pintu-pintu ma’rifat Allah untuk melesatkan keimanan seorang hamba.

Tidak salah juga jika kita memandang dari kaca mata awam, bahwa anugrah sakit adalah musibah yang mengoyak rasa. Karena orang sakit merasa tersiksa dengan penyakitnya. Orang yang sakit kudu mengeluarkan uang (terkadang cukup banyak) untuk mengobati penyakitnya. Dan orang sakit tidak bisa beraktifitas seperti biasanya, seperti aktifitas bekerja, belajar, bersosialisasi, dan lain-lain.

Secara sunatullah (hukum sebab-akibat), penyakit datang karena ada hal-hal yang menjadi pemicunya. Tubuh manusia sudah diciptakan Allah penuh kesempurnaan dengan kontrol otomatis. Misal, jika kita kurang istirahat akan menyebabkan kelelahan. Kelelahan jiwa raga yang berlarut-larut itulah yang akan menjadi pemicu datangnya suatu penyakit.

Bisa jadi juga karena kita terlambat makan, maka organ-organ kita secara otomatis akan memberikan sinyal kepada kita akan keadan tubuh. Jika sinyal-sinyal tersebut tidak kita hiraukan, maka kita akan menderita sakit. Di situlah Allah SWT menyapa kita, mengingatkan kita untuk hidup teratur menurut kadar kemampuan tubuh kita. Jika tidak sakit, mungkin kita akan terus berjibaku dengan kebiasaan yang salah tentang pola hidup sehat. Akibatnya akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar pada organ tubuh kita. Jadi, terkadang musibah (sakit) yang menimpa seseorang bertujuan untuk mencegah musibah yang lebih besar lainnya.

Dalam kaitan tersebut di atas, perhatikan firman Allah Ta’ala berikut,
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30)

Di sisi lain, terkadang penyakit yang menimpa seorang mukmin adalah murni kehendak Allah tanpa campur tangan manusia (sunatullah). Tujuannya hanya satu, Allah ingin mengangkat derajat yang lebih tinggi kepada hamba-Nya. Mungkin saja seorang mukmin sudah menjalani pola hidup sehat dan pola hidup taqwa, namun masih saja diberikan anugrah sakit. Itulah yang dinamakan sakit sebagai bentuk sapa sayang-Nya.

Dan inilah kabar gembira bagi seorang mukmin ketika ditimpa suatu penyakit,
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid : 22).

“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa seseorang melainkan dengan izin Allah.” (QS. At-Taghaabun : 11).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan semua takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653).

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571).

“Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 5641).

“Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya.” (HR. Muslim no. 2573).

“Bencana senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada kesalahan pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2399, Ahmad II/450, Al-Hakim I/346 dan IV/314, Ibnu Hibban no. 697, dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Mawaaridizh Zham-aan no. 576).

“Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguji hamba-Nya dengan penyakit, sehingga ia menghapuskan setiap dosa darinya.” (HR. Al-Hakim I/348, dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Shohih Jami’is Shoghirno.1870).

“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya.” (HR. Muslim no. 2572).

“Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api neraka.” (HR. Al-Bazzar, dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Silsilah al Hadiits ash Shohihah no. 1821).

“Janganlah kamu mencaci-maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi.” (HR. Muslim no. 2575)

Sikap Batin ketika Sakit
Orang sakit sebenarnya sedang diberi ruang untuk istirahat sejenak dari rutinitas kesehariannya. Istirahat untuk menjadwal kembali pola hidup sehat dan pola hidup bahagia dengan iman di dada. Selain itu, orang sakit mempunyai kesempatan yang jauh lebih banyak untuk merenungkan kembali jalan hidup yang telah dilaluinya. Pada level ini, orang sakit bisa memanfaatkan masa sakitnya untuk menakar diri dan bercermin diri. Baik mengevaluasi pola hidup sehatnya dan pola hidup spiritualnya. Oleh sebab itu, jangan heran jika kita menemukan orang sakit akan nampak lebih shalih dan lebih santun dibandingkan jika ia sehat. Orang-orang seperti ini bukan hanya mendapatkan masa istirahat yang cukup bagi kesembuhan raganya, tetapi juga bisa mengambil hikmah dari sakitnya dengan lebih memahami akan kebesaran Tuhannya.

Tindakan Ketika Sakit
Dalam sebuah Hadis disebutkan, bahwa semua penyakit ada obatnya, kecuali satu; yaitu penyakit tua. Dari situ dapat kita ambil kesimpulan agar kita tidak boleh berputus asa dalam meraih kesembuhan. Teruslah berobat sampai sembuh sesuai kaidah syari’i dan sunatullah yang berlaku. Secara lahiriah berobat melalui wasilah dokter, tabib, herbal, thibbun nabawi dan lain-lain. Dan secara batin pasrah bongkokan (tawakal) kepada Allah Ta’ala. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar dan hanya berserah diri kepada-Nya (pertolongan Allah).

Dalam Hadis lainnya juga diceritakan, bahwa Rasulullah SAW mendoakan seorang wanita yang terkena penyakit ayan agar tidak tersingkap auratnya ketika penyakit ayannya kambuh. Padahal sebelumnya wanita tersebut minta do’a kesembuhan wasilah Rasulullah SAW. Semua itu karena wanita yang mengidap penyakit ayan tersebut memilih bersabar dengan penyakitnya untuk meraih cinta Allah, seperti kabar gembira yang disampaikan Rasulullah SAW. Jadi, dengan begitu boleh bagi kita tidak berobat secara lahiriah (wasilah dokter, tabib, herbal, thibbun nabawi dan lain-lain). Dan hanya mengandalkan tawakal kepada Allah dan rughyah.

Kisah Orang Shalih Ketika Sakit
Seperti uraian di atas, semua orang bisa sakit. Para Nabi, Ulama dan orang-orang shalih pun juga pernah mengalami sakit. Jadi kalau sakit, ya sakit saja. Banyak pilhan bagi kita dalam menyikapi rasa sakit. Seperti kisah Imam Syafi’i ketika mendapat ujian sakit.

Diceritakan, di kala Imam As Syafi dalam keadaan lemah karena sakit, seorang penguasa Mesir menjenguknya. “Wahai As Syafi’i, apakah nikmat sakit selain banyaknya orang yang menjenguk?”

“Wahai saudaraku, apakah nikmat sakit selain mengharap pahala dari sakit dan sesunggunhnya ia merupakan penghapus dosa?” Jawab Imam As Syafi’i.

Di kesempatan lainnya, Imam As Syafi’i menyatakan kepada Rabb-nya ketika ia sakit,”Jika hal ini menjadikan Engkau ridha maka tambahkanlah sakit ini”.

Hingga suatu saat seorang ahli ibadah Idris Al Khaulani mendengar pernyataan Imam As Syafi’i tersebut dan beliau pun mengirim utusan dan menyampaikan,”Wahai As Syafi’i aku dan dirimu bukanlah manusia ahli musibah”.

“Wahai Idris Al Khaulani, berdoalah untukku”, balas Imam As Syafi’i.* (Manaqib Imam As Syafi’i li Al Baihaqi, 2/174, 160)

Dokter juga Bisa Sakit
Secara lahiriah, banyak hal yang menyebabkan seorang juru sembuh bisa sakit. Bisa karena khilaf atau lalai menjalankan pola hidup sehat. Dan bisa juga karena tertular penyakit pasiennya. Untuk itu seorang juru sembuh atau dokter sudah selayaknya memohon pertolongan Allah agar tidak tertimpa atau tertular penyakit pasiennya. Dan inilah tuntunan do’a untuk para juru sembuh yang bisa kita amalkan,

“Alhamdulillahilladzi ‘Aafaanii mimaa ibtalaaka bihi wa faddhalani ‘alaa katsirin mimman khalaqa tafdhila”
Artinya: segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang menimpamu dan memberikan keutamaan kepadaku atas mahluk (lainnya) yang ia ciptakan.
(HR, At-Tirmidzi v/494, lihat juga shahih At-Tirmidzi III/153, Hisnul Muslim)

Dan berikut ini adalah kisah dokter yang menangani Imam Syafi’i di kala sakit. Ketika Imam As Syafi’i menderita sakit, sang murid Al Muzani menjenguknya. “Bagaimana keadaan Anda?”, tanya sang murid.

“Aku memakan rizkiku dan menunggu ajalku”, jawab Imam As Syafi’i.

“Bagaimana jika aku memanggil seorang dokter untuk mengobati Anda?” Izin sang murid. Dan Imam As Syafi’i pun mingizinkannya.

Setelah itu datanglah seorang dokter Nasrani. Imam As Syafi’i yang yang juga memeiliki pengetahuan mengenai kedokteran memeriksa tangan sang dokter. Imam As Syafi’i melihat sang dokter juga sedang sakit.

Setelah peristiwa itu Imam As Syafi’i bersyair,”Telah datang seorang dokter memeriksaku dan aku memeriksanya. Lantas dengan kondisi dokter yang demikian. Ia mengobatiku sepenjang masa sakitnya. Dan termasuk keajaiban, ada orang buta yang menjadi dokter mata”.

Selang beberapa hari ketika sang dokter wafat, Imam As Syafi’i pun bersyair kembali,”Sesungguhnya dokter dengan ilmu dan obatnya tidak mampu melawan ketentuan takdir. Sang dokter tidak lain wafat dengan penyakit serupa yang terkadang bisa disembuhkan di masa sebelumnya. Wafatlah dokter, pasien, pembuat obat, penjualnya maupun yang membelinya”. (Manaqib As Syafi’i li Al Baihaqi, 2/296)

Matinya Orang yang Sakit Perut Adalah Syahid
Bagi seorang muslim, ketika ia mati karena penyakit perut , maka kematiannya adalah syahid. Sengsara Membawa Nikmat. Seperti Hadis berikut ini,

“Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah

Dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang terhitung syahid menurut anggapan kalian?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid.” Beliau menanggapi, “Kalau begitu, syuhada dari kalangan umatku hanya sedikit.” “Bila demikian, siapakah mereka yang dikatakan mati syahid, wahai Rasulullah?” tanya para sahabat. Beliau menjawab, “Siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit tha’un2 maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit perut maka ia syahid, dan siapa yang tenggelam ia syahid.” HR. Muslim

Kewajiban Seorang Muslim Ketika Saudaranya Sakit
Kewajiban utama seorang muslim ketika diberi kelonggaran atau kemampuan oleh Allah ketika melihat ada saudaranya muslim sedang sakit adalah menjenguknya. Dan tak kalah pentingnya adalah memberikan motivasi dan mencukupi apa yang menjadi kesempitannya.

Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sepi; baik sepi karena terdhalimi dan sepi karena anugrah sakit. Dan ma’rifat Allah akan datang pada saat gelapnya kesempitan dan kedukaan, yang tidak diperoleh dalam terangnya nikmat dan kelapangan. Seperti hadis qudsi berikut ini,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya pada hari kiamat Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Hai Anak Adam, Aku Sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.’ Dia berkata. ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana saya menjenguk-Mu, padahal Engkau adalah Rabb semesta alam.’ Dia berfirman, ‘Tidak tahukah kamu bahwa hamba-Ku, fulan, sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Tidak tahukah kamu jika kamu menjenguknya, kamu akan mendapati Aku berada di sisi-Nya.’’ H.R. Muslim, no. 2569

Dan Allah juga memberikan kabar gembira bagi setiap muslim yang menjenguk saudaranya seiman ketika sedang sakit,
“Tiada seorang muslim pun yang membesuk saudaranya yang sakit, melainkan Allah mengutus baginya 70.000 malaikat agar mendoakannya kapan pun di siang hari hingga sore harinya, dan kapan pun di sore hari hingga pagi harinya.” musnad ahmad 2/110

Penutup
Mudah-mudahan bermanfaat. Apapun takdir dari Allah, semoga kita selalu ridha dan berlapang dada menjalani sekenario dari Allah. Dan semoga Allah mengampuni dan menerima taubat kita. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Keajaiban Hidup dengan Memuliakan Al Quran



syintame.blogspot.com


Bina Rasa -
Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi adalah sufi besar yang hidup di kota Baghdad Irak dan wafat di tempat yang sama pada tahun 227 Hijriyah. Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi ini adalah seorang pembesar orang-orang shalih dan cukup akrab di telinga masyarakat pada masanya.

Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi menjadi sumber nasihat, mengadu dan bertanya bagi orang-orang yang mempunyai masalah. Semua itu karena Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi adalah seorang alim yang luas ilmunya dan seorang yang ahli ibadah.

Siang dan malam, Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi tidak merasa lelah dalam melayani umat. Tamunya datang dari golongan orang awam hingga para sultan. Meski demikian, beliau tetap sama dalam memperlakukan setiap orang yang meminta wasilah pertolongannya.

Pernah suatu ketika ada seorang pembesar kerajaan datang kepadanya untuk bertanya, “Wahai Bisyr, saya rindu sekali ingin bertemu denganmu.”

Menanggapi hal tersebut, Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi menjawab, “Tapi sayang sekali, saya tidak ingin melihatmu.”

Penuh kecewa lelaki tamu Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi itupun memohon sekali lagi, “Kalau begitu nasihatilah saya.”

“Menangislah untuk ingat mati!” jawab Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi.

Terhenyak perasaannya lelaki tamu Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi mendengar nasihat sang syekh tersebut. Dia merasa selama ini memang bergelimang dengan harta dan kekuasaan. Dan membuatnya sering lalai untuk melembutkan hatinya. Dirinya merasa sulit menikmati ibadah karena harta dan kekuasan yang sering menjajah nuraninya.

Selang berapa hari, lelaki tamu Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi tersebut mengutus pengawalnya untuk memberikan hadiah kepadanya. Namun tak dinyana, Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi menolaknya, “Saya menolak hadiah dari tuanmu. Dan katakan pada tuanmu, kembalikan hadiah ini pada orang yang telah engkau rampas dari haknya. Kembalikan, sebelum orang yang telah engkau ambil hak-haknya menuntutmu di akhirat kelak.”

Mendengar jawaban dari Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi melalui pengawalnya, lelaki pembesar tersebut menemui lagi Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi dan menangis sejadi-jadinya.

Dengan kejernihan batinnya, Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi mampu menembus kesadaran pembesar tersebut untuk kembali fitrah, “Tinggalkan tamak dunia dalam hidup ini. Janganlah rakus! Janganlah kumpulkan harta tanpa henti! Sementara dirimu tidak tahu untuk siapa harta tersebut engkau tumpuk-tumpuk. Rejeki dan kekuasaan itu Allah yang menentukan. Selalu fakir bagi orang-orang yang rakus harta dan kekuasaan. Dan tampak kaya bagi orang-orang yang qana’ah.”

Jalan Kemuliaan Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi 

Suatu ketika Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi ditanya oleh seorang pemuda yang mendatanginya. “Bagaimana masa lalu anda yang sebenarnya, wahai syekh? Bagaiman bisa sekarang engkau mempunyai keutamaan yang karenya engkau banyak bermanfaat untuk orang banyak. Bahkan seolah-olah engkau ditaklidkan oleh mereka” tanya sang pemuda tersebut.

Dengan bahasa santun dan pembawaan yang tenang, Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi menjawab rasa penasaran pemuda tersebut, “Ini semata-mata karena anugrah Allah. Dulunya aku adalah seorang yang mudah gugup dan penakut. Suatu hari aku berjalan sendirian. Tiba-tiba di tengah jalan aku menemukan secarik kertas bertuliskan bismillahirrahmanirrahiim. Aku memungutnya, membersihkannya dan aku masukan ke dalam kantong bajuku.”

Lebih lanjut Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi menceritakan setelah menemukan kertas bertuliskan basmallah tersebut, “Saat itu aku hanya mempunyai uang sebanyak dua dirham. Selanjutnya aku pergi ke toko, dan kubelikan minyak wangi uangku tersebut. Setelah itu, aku oleskan minyak ghaliah yang baru saja aku beli ke sobekan kertas yang bertuiliskan ayat Al-Qur’an.”

Semakin penasaran pemuda tersebut mendengar kisah Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi, dan meminta sang syekh untuk melanjutkan kisahnya. Syekh Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi melanjutkan kisah spiritualnya, “Sesampai di rumah dan ketika menjelang larut malam, akupun bergegas menuju ke pembaringan. Dalam tidur aku bermimpi, ada seseorang yang berkata kepadaku, “wahai Bisyr, kamu telah mengangkat namaku yang terserak di jalan, dan engkau beri minyak wangi. Sebagai balasanku, maka akan aku harumkan namamu di dunia dan di akhirat kelak.” Setelah kejadian itu, maka terjadilah seperti apa yang engkau lihat seperti sekarang ini.”

Akhir kata, pemuda tersebut puas dan semangat meneladani seperti kisah Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi. Dan pemuda tersebut berpamitan pulang dari rumah Bisyr bin Al-Harits Al-Marwazi.
(Kami sarikan dari Dumu’ Ash-Shalihin) 

Hikmah

Dari kisah di atas, sudah seharusnya kita sebagai muslim untuk bisa memuliakan Al-Qur’an. Baik dengan mempelajarinya, mengamalkannya dan menjaga kemuliaan Al-Qur’an. Dan salah satu tantangan terbesar di jaman sekarang adalah menjaga kemuliaan Al-Qur’an dari pelecehan dan penyesatan kaum kufar dan munafik.

Sungguh , Al-Qur’an hanya disentuh oleh orang-orang yang disucikan. Artinya, kita dianjurkan berwudhu dahulu sebelum memegang mushaf Al-Qur’an. Dan hanya orang-orang yang hatinya bersih yang mampu digetarkan energi Al-Qur’an.

Pintu kemuliaan dan ma’rifat Allah banyak ragamnya. Dan terkadang dari amalan yang sepele namun bernilai mulia di mata Allah.

Siapa yang memuliakan Al-Qur’an, maka Allah akan memuliakan orang tersebut. Sebaliknya, siapa yang merongrong dan melecehkan Al-Qur’an, maka Allah akan menghinakannya. Wallahu ‘alam bishawab.

KISAH

SPIRITUAL

JAWANISME

HIKMAH