Hanya Butuh Waktu Tiga Hari, AIDS Bisa Disembuhkan dengan Tuntas

Ramuan Mujarab untuk AIDS

Bina Rasa - Dalam sebuah hadis shahih disebutkan, bahwa semua penyakit ada obatnya, kecuali satu; yaitu penyakit tua. Dari situ dapat kita ambil pelajaran agar kita tidak boleh berputus asa dalam meraih kesembuhan. Teruslah berjuang untuk mencari wasilah kesembuhan, sesuai kaidah ilmiah pengobatan dan syar’i dalam pengobatan.

Dalam sebuah riwayat yang terangkum di kitab Fahtul Majid diceritakan akan perjuangan Nabi Musa AS dalam mencari obat sakit gigi yang sedang menderanya.

Suatu hari Nabi Musa AS bermunajat kepada Allah untuk memohon kesembuhan atas sakit di giginya. Dan Allah-pun mengabulkan permohonan Sang Baginda Nabi AS. Dengan petunjuk Allah, melalui wasilah (perantaraan) obat berupa beberapa helai rumput yang diambil di suatu tempat, maka terbebaslah Sang Baginda Nabi AS dari keluhan sakit giginya.

Namun selang beberapa lama sakit giginya Nabi Musa AS kambuh lagi. Dan Nabi Musa-pun segera menuju padang rumput yang dulu pernah didatanginya waktu beliau sakit gigi. Tanpa basa-basi, rumput yang diambilnya langsung dijadikan obat sakit gigi. Bukannya sembuh, sakit giginya Nabi Musa AS malah bertambah parah.

Dengan kejadian yang menimpanya tersebut, Nabi Musa AS segera beruzlah dan bertafakur kepada Allah SWT. Dan terjadilah dialog antara Nabi Musa AS dengan Tuhannya:

Nabi Musa, “Wahai Tuhanku, bukankah Engkau memerintahkanku, dan menunjukanku untuk obat sakit gigi.”

Allah SWT menjawab pertanyaaan Sang Baginda Nabi Musa AS, “Akulah yang menyembuhkan. Akulah yang memberi kebaikan. Akulah yang mendatangkan mudharat. Dan Aku pula yang mendatangkan kemaslahatan. Wahai Musa, pada sakitmu yang pertama, engkau mendatangi-Ku; karena itu maka kusembuhkan sakitmu. Tetapi untuk sakitmu yang kedua, engkau meninggalkan-Ku. Engkau langsung mendatangi rumput itu, bukan mendatangi-Ku.”


Hanya Perlu Waktu Tiga Hari untuk Bisa Sembuh Total dari Penyakit AIDS
Dengan semangat spiritual (supra natural dan supra rasional) seperti yang saya sampaiakan di atas, menjadi pondasi saya dalam mengarungi dunia ketabiban selama ini. Atas kehendak Allah, penyakit kronis dan akut bisa sembuh melalui perantaraan saya. Dari penyakit kanker, stroke, magh akut, batu empedu hingga gagal ginjal bisa sembuh total tanpa kambuh lagi. Dan semua itu terjadi atas kehendak Allah Yang Maha Penyembuh.
***

Dengan riadhah dan tafakur pengobatan, alhamdulillah Allah memberikan petunjuk-Nya, yaitu berupa ramuan mujarab bagi penderita HIV atau AIDS.

Dasyatnya ramuan hasil laku spiritual ini adalah; mampu mengobati penyakit AIDS atau HIV hanya perlu waktu tiga hari penanganan atau pengobatan (insya Allah). Dan sesuai kehendak Allah, ramuan hasil laku batin saya ini “hanya bisa untuk menyembuhkan sepuluh orang” penderita HIV / AIDS.

Sistem Pengobatan
Untuk mencapai tujuan pengobatan (kesembuhan), pasien wajib taat dengan sistem pengobatan yang kami buat. 

Mahar Ramuan untuk AIDS
Sebelum pengobatan dilakukan, kami akan membuatkan nota kesepemahaman (perjanjian) mahar dan syarat administrasi lainnya kepada calon pasien. Dan untuk mahar pengobatan AIDS, dibayarkan pasien AIDS setelah terbukti sembuh; dengan dibuktikan tes laboratorium (medis).

Cara Mendapatkan Pengobatan AIDS

-Hubungi Tabib Wira, di CP. 085 737 9505 99-




Filosofi dan Spiritual dari Batu Akik



Bina Rasa - Seperti musim hujan, bisnis batu akik dan sejenisnya yang sempat boming (waktu itu) akhirnya kini kemarau lagi (sepi). Waktu boming batu, semua berburu batu akik, dan berburu keberuntungan. Ada yang hanya sekedar tergerus trend, ada yang memang benar-benar hoby batu akik, dan ada juga yang memanfaatkan peluang bisnisnya. Kalau saya pribadi waktu trend batu akik lebih memilih memanfaatkan peluang bisnisnya. Karena waktu itu sungguh fantastik harga batu akik.

Dengan jenis batu yang mempunyai nilai seni tinggi, dan dengan kekuatan marketing yang baik; harga batu akik pun bisa menjadi selangit. Alhamdulillah bisa menikmati keberkahan trend batu akik (waktu itu).

Meski sekarang sudah tidak boming lagi batu akik, kecintaan saya pada nilai seni batu akik masih tetap membara. Dan lebih utama lagi akan filosofi spiritualnya.

Tidak akan pernah sia-sia apapun ciptaan Allah. Seperti halnya Allah menciptakan tumbuh-tumbuhan. Dari tumbuh-tumbuhan menjadi salah satu asbab turunnya rahmat Allah. Karena rahmat-Nya, tumbuh-tumbuhan bisa menjadi obat-obatan, makanan untuk manusia dan hewan. Karena rahmat-Nya pula tumbuh-tumbuhan bertasbih memuji Tuhan-Nya, dan menjadikannya rahmatan lil ‘alamin. Namun terkadang rahmat Allah tersebut kepada tumbuh-tumbuhan bisa mengundang peringatan dan murka Allah; jika manusia sebagi khalifah di muka bumi ini kufur nikmat. Banjir dan tanah langsor salah satu contoh karena kelalaian manusia dalam menjaga kelestarian alam.

Sama halnya dengan ciptaan Allah yang berupa bebatuan. Karena rahmat-Nya, bebatuan bisa menjadi bahan bangunan untuk manusia, hiasan (batu mulia), dan lain sebagainya.

Kalau batu, dan tumbuh-tumbuhan saja bisa mendatangkan rahmat Allah, apalagi Al-Qur’an. Dan manusialah penyambung dari semua rahmat Allah tersebut.

Kembali fokus tentang filosofi spiritual batu mulia. Tentu kita sadar, sudah menjadi sunatullah-Nya setiap ada kebaikan pasti ada keburukannya. Sama halnya dengan batu mulia. Dan pada kesempatan ini, kita lihat nilai manfaat saja dari sebuah batu mulia. Hal tersebut juga berlaku untuk manusia. Mengingat-ingat akan kebaikannya seseorang itu akan lebih menenangkan; dari pada kita sibuk metani (membuka) kekurangan orang lain. Sungguh (kecuali para Nabi Allah), sak apik-apike manungso mesti ono eleke, lan sak elek-eleke manungso mesti ono apike.  Artinya sebaik-baik manusia pasti ada kekurangannya, dan sejelek-jelek manusia pasti ada kebaikannya.

Saya masih ingat bagaimana rasanya untuk mendapatkan batu mulia pilihan yang mempunyai nilai seni dan nilai jual tinggi. Langkah awal saya untuk bisa mendapatkan batu-batu yang layak jual adalah dengan pesan order pada seorang pemasok batu. Dan yang tak kalah serunya adalah ketika para pemasok batu itu berburu bebatuan. Dari pedalaman hingga pinggir-pinggir gunung mereka berburu batu. Sampai ke tangan saya, bebatuan yang saya terima masih bahan setengah jadi (bahan mentah).

Bermitra dengan pengrajin batu mulia, bebatuan itupun menjadi layak jual. Dipotong, diamplas dan dibentuk; bebatuan itupun siap jual. Tidak hanya sampai di situ, saya pun berfikir keras agar batu-batu dagangan saya tersebut bisa laku keras dengan segmentasi pembeli yang bisa menghargai sebuah karya seni.

Alhamdulillah trend batu akik atau batu mulia sudah berlalu penuh keberkahan. Sepenggal kisah saya di atas sebenarnya hanyalah gambaran akan filosofi spritual dari batu mulia. Bahwasanya untuk meraih segala sesuatu perlu perjuangan dan visi yang jelas.

Sungguh luar biasa filosofi spiritual tentang batu batu mulia. Sebagus apapun bahan mentah dari sebuah batu mulia, semua kembali ke sang empu untuk membentuknya (visi). Seperti halnya dalam hidup, orang harus berani mempunyai visi yang jelas dan misi yang kuat. Karena kita akan mendapatkan imbalan sesuai apa yang kita yakini dan kita perjuangkan.

Seperti filosofi spiritual batu mulia, maka kita fokuskan pembahasan selanjutnya mengenai pentingnya mempunyai tujuan atau visi dalam kehidupan ini.


A. Menghidupkan Visi Hidup

Apa yang terjadi pada kita saat ini, itu semua kembali dari apa yang telah kita visikan, dan kita misikan (perjuangkan) beberapa waktu yang telah lampau. Seperti halnya orang-orang hebat di bawah ini, mereka menjadi orang yang luar biasa karena berawal dari visi yang kuat dan misi (perjuangan) yang hebat pula.

Maha Patih Gajah Mada
Dalam sejarah Indonesia, ada tokoh fenomenal yang terukir indah dalam peradaban Bangsa Indonesia, Yaitu Maha Patih Gajah Mada. Berkat jasa Maha Patih Gajah Mada, tegaklah persatuan Bangsa Indonesia di bawah naungan nusantara. Dan sekarang ini menjadi NKRI.

Semua itu berawal dari visi besar Maha Patih Gajah Mada yang terkenal dengan “Sumpah Palapa”. Maha Patih Gajah Mada dengan visi besarnya menyatukan nusantara, maka dengan sumpah palapanya beliau berjanji tidak akan mencicipi kenikmatan dunia sebelum mampu menyatukan nusantara.

Dengan perjuangan yang gigih dan tak mengenal menyerah, akhirnya terbayar sudah sumpah palapanya. Nusantara bersatu hingga sekarang.

KH. Ahmad Dahlan
Sama seperti halnya Maha Patih Gajah Mada, KH. Ahmad Dahlan mampu membawa angin segar dalam kehidupan beragama (Islam) bagi Bangsa Indonesia juga berawal dari sebuah visi yang jelas.

Dengan Muhammadiyah yang beliau dirikan, visinya sebenarnya sederhana saja. Pada awalnya, KH. Ahmad Dahlan ingin merubah kampung halamannya. Namun apa yang terjadi, visinya yang sederhana itu justru berbuah yang di luar dugaan. Tidak hanya kampungnya di Kauman Yogyakarta saja yang bisa beliau warnai, namun justru menusantara Muhamadiyah yang beliau jadikan misinya tersebut. Dan tidak hanya itu, Muhammadiyah sekarangpun mulai mendunia.

Alexander Graham Bell
Tahukah kita akan sejarah ditemukannya tele phone? Alexander Graham Bell-lah orang yang pertama kali menemukan, dan mengembangkan tehnologi tele phone. Awalnya, hasil karya Alexander Graham Bell banyak ditertawakan khalayak umum. Bahkan ia sempat dianggap gila dan diusir dari komunitasnya.

Dengan visi yang besar, kerja cerdas, dan kerja tuntas, akhirnya orang-orangpun mengakui akan keilmuan Alexander Graham Bell. Dan kini telepon hasil  karyanya tersebut sudah dipakai di seluruh dunia.

B. Mengapa Harus Visioner

Ketiadaan visi atau tujuan dalam hidup akan membuat seseorang kebingungan dalam mengarungi kehidupan ini. Terombang-ambing dan mudah terbawa arus kehidupan. Ibaratnya seperti orang yang berlayar tanpa mengetahui pelabuhan mana yang akan dituju.

Sebagian orang beranggapan bahwa hidup seperti air saja, mengalir  ikuti arusnya. Memang tidak salah pemahaman seperti itu, namun kurang tepat. Bagaimana jadinya jika air yang mengalir itu masuk ke comberan atau tempat-tempat kotor lainnya. Sama halnya dalam hidup, kita diperintahkan untuk selalu visioner dalam hidup; tanpa harus meninggalkan aspek lahiriah lainnya (sunatullah). Karena ada sebagian ketentuan Allah yang harus ditempuh dengan jalan perjuangan.

Surga saja Allah menghendaki kita untuk berjuang, meski masuk ke Surga pun juga atas rahmat-Nya. Bayangkan jika hidup untuk akhirat seperti air yang tidak terarah, kehidupan akhirat pun akan menjadi abu-abu bagi kita.

Di sisi lain, ada sebagian orang yang sudah merasa cukup dengan apa yang mereka jalani saat ini. Mereka seolah-olah tak menginginkan apa-apa lagi dalam hidup ini. Padahal setiap orang pasti mempunyai keinginan. Karena keinginan (semangat) adalah denyut kehidupan ini. Namun karena visinya yang lemah menjadikannya mati rasa dalam kehidupan ini.

Selama kita masih punya harapan (semangat), selama itulah kita masih punya alasan hidup di muka bumi ini. Kalau semangat hidup sudah menghilang, tidak ada lagi yang dikejar, tidak ada lagi sesuatu yang ia ingin diwujutkan; hakikatnya orang tersebut sudah mati, seperti robot yang bergerak tanpa rasa (hasrat).

Hidup adalah perjuangan, berhenti berjuang kita tiada. Teruslah berjuang hingga Allah ridha dengan kita. Berlayar mengingat-Nya, berlabuh di keagungan-Nya.

Itulah sebabnya kita harus visioner, dan berani berjuang dalam hidup ini. Semua hal terwujut berawal dari sebuah gambaran keinginan (visi). Sekecil apapun visi kita, wujutkanlah! Kalaupun kita tidak mampu melakukan hal besar, maka lakukanlah hal kecil dengan cara besar. Dan ketika kita mempunyai visi besar; bersiaplah dengan ujian yang besar, dan serahkan semuanya kepada Yang Maha Besar (Allah SWT).

Dalam membuat visi, kita juga harus realistis dengan kondisi kita, dan sesuai batas-batas kehidupan yang sudah ditentukan Allah. Misal, kita sudah ngga mungkin jadi nabi, maka jangan gila visi dengan bercita-cita ingin menjadi nabi. Itulah takdir mutlak yang tidak bisa kita raih. Dan realistislah dalam visi, yaitu punya keseimbangan dalam misi (kekuatan ikhtiar). Tak mungkin seseorang bisa menjadi orang kaya (visi menjadi kaya); sedangkan misi (ikhtiar) orang tersebut adalah pemalas. Bagaimana pula seseorang bisa masuk surga (visi), sedangkan misi yang ia jalani adalah amalan ahli neraka.

Selama masih terjangkau hakikat kita, tak ada salahnya kita membangun visi yang besar. Karena visi itulah yang akan memompa kemampuan kita.

Yakinlah, Allah itu sesuai prasangka "hamba-Nya". Dan apakah kita ini termasuk hamba Allah? Atau jangan-jangan hanya pengakuan sepihak saja, mengaku-ngaku hamba Allah. Itulah pentingnya kita perlu sertifikasi sebagai hamba Allah dengan cara beriman dan bertaqwa. Dengan begitu, mudah-mudahan Allah akan selalu memberikan keajaiban-keajaiban dari setiap visi yang kita perjuangkan.

Wallahu ‘alam bishawab.

Fakta Mengejutkan di Balik Berita Hoax




Bina Rasa - Fenomena fitnah atau hoax (berita bohong) ternyata tidak hanya santer terjadi di jaman sekarang saja. Sudah ratusan tahun yang lalu, Rasulullah  telah memberikan peringatan untuk mewaspadai akan kejahatan  fitnah. Karena Baginda Nabi SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya juga pernah merasakan bagaimana rasanya difitnah dan dibully.

Berita hoax atau fitnah masuk ke dalam kriteria dosa besar:
“Sesunggunya orang-orang yang mendatangkan fitnah kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab (neraka) yang sangat pedih.”
(Q.S. Al-Buruj, Ayat 10) 

“Inginkah kalian aku beritahukan manusia terburuk di antara kalian? Para Sahabat menjawab, Ya Rasulullah. Dan Rasulullah pun bersabda: Yaitu orang-orang yang ke sana-kemari menyebar fitnah, yang memecah belah di antara orang-orang yang saling mencintai dan meniupkan aib kepada orang-orang yang tidak berdosa atau bersalah.”
(H.R. Ahmad)



Karena dampaknya yang luar biasa dari sebuah berita hoax atau fitnah, maka Allah memberikan batas bagi kaum muslimin dalam menerima sebuah berita. Dan Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa sebuah berita, maka periksalah kebenarannya dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” Q.S. Al-Hujurat Ayat 6.

Terdapat beberapa riwayat yang melatar belakangi diturunkannya Q.S. Al-Hujurat Ayat 6. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, diceritakan akan berita hoax yang disebar luaskan oleh seorang fasik yang bernama Al-Walid bin Ugbah. Al-Walid bin Ugbah menyebarkan hoax bahwa Suku Bani Al-Musthaliq tidak mau membayar zakat kepada rombongan yang diutus Rasulullah (dibawah pimpinan Al-Harits bin Dhirar). Bukan itu saja berita hoax yang telah menyebar di kalangan kaum muslimin. Ancaman pembunuhan juga menjadi hoax paling renyah yang telah disebarkan Al-Walid bin Ugbah. Kabar hoax itupun akhirnya sampai ke telinga Sang Baginda Nabi SAW. Maka dengan langkah cepat dan penuh kehati-hatian, Rasulullah mengutus khalid untuk mencari kebenaran dari hoax tersebut. Setelah cek and ricek, semua kabar yang dibawa Walid bin Ugbah hanyalah fitnah. Dan dampak dari hoax tersebut, hampir saja terjadi pertumpahan darah sesama muslim.

Merujuk dari kandungan Q.S. Al-Hujurat Ayat 6, maka kita sebagai seorang mukmin harus berhati-hati dalam menerima kabar berita dari seorang yang majhul (tidak jelas kepribadiannya). Karena sangat besar kemungkinannya ia adalah golongan orang yang fasik, suka membuat huru-hara dengan muatan hoax.

Untuk lebih berhati-hati lagi dalam menyikapi berita, kita wajib mengetahui kepribadian si pembawa berita. Kalau pembawa berita tersebut terang benderang akan kejujuran dan kapasitas ibadahnya, maka kita bisa langsung menerima kabar berita yang ia bawa. Sebaliknya, kalau si pembawa berita sudah teruji akan kebohongannya, maka wajib bagi kita untuk mengklarifikasi akan berita yang ia kabarkan. Dan termasuk juga untuk golongan kaum muslimin yang terindikasi fasik (rusak), wajib bagi kita untuk tabayun atas berita yang ia bawa.

Selain hoax atau fitnah, ada satu lagi dosa besar yang mempunyai kemiripan yang hampir sama, yaitu ghibah. Sama-sama masuk klasifikasi dosa besar, dan mempunyai dampak yang luar biasa dalam kehidupan sosial dan beragama.

Kalau fitnah jelas tujuannya, menyebarkan kabar hoax karena rasa dengki dan permusuhan. Tujuan akhirnya adalah melemahkan atau memenangkan suatu konflik. Sedangkan ghibah atau menggunjing arah tujuannya adalah membuka aib seseorang karena faktor kebencian, atau hanya karena faktor kepleset omongan semata dalam pergaulan.

Menurut Imam Nawawi, ada satu ghibah yang diperbolehkan demi kemaslahatan orang banyak. Dan menyampaikannya pun kudu memakai adab dan akhlak. Batasannya tidak boleh keluar dari kebenaran, dan wajib harus ada bukti. Jika tidak ada bukti, maka perbuatan tersebut bisa masuk perbuatan fitnah. Adabnya pun kudu ditegakan, yaitu dengan cara terhormat, tidak mengolok-olok atau menghina, dan bisa ditegakkan dengan hukum yang berlaku (jika diperlukan).

Contoh ghibah yang diperbolehkan secara syar’i, misal seorang petugas kepolisian dalam rangka mengungkap suatu kejahatan. Dalam rangka mencari mata rantai  suatu kejahatan, seorang polisi diperbolehkan menggunjing atau meng-ghibah seorang penjahat . Namun setelah jatuh pidana, seorang polisi wajib menutup akses berita kejahatan seseorang. Karena biar bagaimanapun dia adalah manusia biasa yang bisa khilaf, berhak bertaubat, dan berhak mendapatkan kemuliaan di sisi Tuhannya.

Contoh lain ghibah yang diperbolehkan adalah ketika ada pemilihan bupati, pemilihan gubernur, pemilihan  presiden dan lain sebagainya. Menjadi hak kita untuk tahu akan rekam jejak seorang calon pemimpin. Seandainya ada rekam jejaknya yang buruk (maksiat), namun ia sudah bertaubat; maka sebagai seorang muslim kita wajib menutup aib saudara kita tersebut. Jangan dighibah! Dan sebaliknya, jika ia (calon pemimpin) tersebut masih bertahan dalam kubangan maksiat (belum bertaubat); maka demi kemaslahatan orang banyak, perlu kita mengghibahnya.

Mengenai ghibah, perhatikan sabda Nabi SAW dan firman Allah di bawah ini:

“Ketika aku (Nabi SAW) mi’raj (naik ke langit), aku melewati suatu kaum yang kuku-kukunya dari tembaga sedang mencakar-cakar wajahnya dan dadanya. Lalu aku (Nabi SAW) bertanya, siapakah mereka itu, wahai Jibril? Malaikat Jibril pun menjawab, mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan merusak kehormatannya.”
(H.R. Abu Dawud No. 4878)

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah dari prasangka! Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain! Dan janganlah ada di antara kamu menggunjing dari sebagian yang lain! Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging yang sudah mati (bangkai)? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.”
(Q.S. Al-Hujurat, Ayat 12)


Fitnah dan Ghibah di Mata Ahli Hakikat

Fitnah dan ghibah bisa menimpa siapa saja. Bagi para penikmat hakikat, fitnah dan ghibah merupakan karunia terindah-Nya. Bagaimana tidak, ketika badai fitnah dan ghibah menerpa, maka maghfirah dan cinta Allah akan semakin memayunginya. Raganya di bumi, namun jiwanya melesat ke langit. Ia sudah tak perduli lagi dengan kemuliaan yang berasal dari manusia. Baginya, demi sebuah keridhaan Allah, ia rela, meski dalam kubangan kehinaan di dunia ini karena difitnah dan dighibah.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Umar bin Khatab yang terkenal akan ketawadhuannya sangat menikmat anugrah fitnah. Bahkan suatu saat Umar bin Khatab merasa kebingungan. Tidak seperti biasanya ia terbebas dari fitnah yang sering melandanya. Ia pun berujar, kepada siapa saja yang berani memfitnahnya akan diberikan imbalan dunia.

Kalau bahasa saya, sikap hebat Umar bin Khatab tersebut dalam menyikapi fitnah adalah, “Hidup ini rasanya terlalu biasa saja tanpa fitnah. Fitnahlah aku, wani piro!”

Para ahli hakikat juga akan berfikir terbalik dari kebanyakan orang ketika suatu musibah menerpa dirinya, seperti halnya musibah fitnah. Yang utama, ia akan ridha dengan apapun ketentuan Allah. Dengan begitu, ia akan berprsangka baik dengan takdir yang terjadi padanya. Termasuk berprasangka positif dengan orang-orang yang telah mendholiminya.

Positif thinking, jangan-jangan orang yang memfitnah kita tersebut adalah utusan Allah; diutus agar hamba-Nya kembali suci dengan karunia fitnah. Bisa jadi juga orang yang memfitnah adalah karena kebodohannya.

Prasangka baik itu bagian dari laku mengenal Allah. Siapa tahu fitnah yang menerpa kita adalah jalan agar  lebih berhati-hati dalam hidup, dan jalan untuk penyucian diri. Siapa tahu fitnah dan ghibah adalah anugrah terselip dari Allah, dan untuk memanjurkan do’a-do’a kita. Dan siapa tahu pula, karena fitnah menjadi sebab Allah jatuh cinta kepada kita. Allah lagi pengin selalu bersama kita. Karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar dan menyucikan diri.

Sungguh indah bagi orang-orang yang bisa memahami dirinya sendiri. Ia sadar, dirinya hanyalah hamba, dan tugas seorang hamba hanyalah sendiko dawuh (siap) akan keinginan Sang Pemilik Diri. Maka dengan itu, segala musibah yang menerpanya (fitnah) akan ia perkecil frekuensi rasanya, dan ia perbesar rasa kemaha besaran Tuhannya.

Lain halnya untuk orang awam (seperti saya), fitnah akan menjadi momok dalam perjalanan hidupnya. Mungkin saja ia sebelumnya orang yang terhormat karena jabatan, keilmuannya, ketokohannya dan hartanya. Dan tiba-tiba harus terperosok dalam kehinaan karena fitnah, dan ghibah. Ia pun yang merasa mulia, dan selalu kepingin dihargai menjadi bergejolak jiwanya. Tidak siap berada dalam posisi terhina karena difitnah dan dighibah.

Itulah sebabnya dalam seni tasawuf dianjurkan untuk melesatkan jiwa ketawadhuan. Dengan tawadhu, diri seorang hamba akan tetap mulia di sisi Allah dan makhluk-Nya yang ada di bumi (barisan mukmin). Meski difitnah, digunjing, ia akan tetap mulia karena rahmat-Nya. Ibarat kata, senyap di bumi, terkenal di langit (penghuni langit). Sebaliknya orang-orang yang memakai topeng kemuliaan, dirinya sebenarnya sedang memakai topeng kepalsuan. Mungkin saja ia mulia dan terkenal di bumi, namun senyap dari para penghuni langit. Kalau bahasa kerennya ma’rifat facebook; terkenal di facebook, senyap di langit.

Sikap Mental Menghadapi Fitnah dan Ghibah

Dengan memahami hakikat fitnah dan ghibah, maka Allah Sang Pemilik Kebenaran akan menerangi fitnahan dan ghibahan tersebut dengan kebenaran dan kemuliaan. Kebenaran dan kemuliaan hakiki pasti akan muncul, baik kita munculkan kebenaran tersebut, atau kita hanya berdiam diri saja (rela).

Sungguh Gusti Allah tidak sare (tidak tidur), pasti akan memberikan pembelaan pada hamba-hamba-Nya yang terdhalimi; meski hamba tersebut tidak memintanya. Apalagi kalau agama Allah (Islam) yang terfitnah, Allah pasti akan membelanya. Jadi, jika fitnah yang menyerang diri kita pribadi atau keluarga diperbolehkan untuk berdiam diri saja (rela). Dan khusus fitnah yang menyerang kemuliaan Islam, kita sebagai seorang muslim punya kewajiban membelaa agama Allah (dengan cara-cara yang ma’ruf). Karena hakikatnya kalau urusan dunia kita boleh mengalah (biar kalah asal tidak salah), namun untuk akhirat (agama) wajib kita perjuangkan.

Pada prinsipnya  kita berhak membela diri untuk menepis ghibah dan fitnah yang menimpa diri kita. Andaipun kita tidak (bisa) menepis suatu fitnah dan ghibah dengan hukum dunia, pasti fitnah akan berganti kebenaran dan ghibah menghilang dengan sendirinya. Semua akan indah pada waktunya.

Tak kalah pentingnya dalam menghadapi fitnahan dan ghibahan adalah dengan membangun mental langitan. Selama kita benar, jangan takut diri kita menjadi hina di hadapan manusia karena dighibah dan difitnah.

Selama jiwa terhubung ke langit, tak perlu takut dengan apapun yang terjadi di bumi. Fitnah dan ghibah tidak akan membawa kemudharatan apapun terhadap jiwa-jiwa yang berserah. Sungguh, pertolongan Allah sangat dekat.

Wallahu ‘alam. Semoga Allah mengampuni dan menerima taubat kita . Menutupi aib dan kelemahan kita. Aamiin.

Jalan Taubat Perempuan Pezina





Bina Rasa - Selang berapa waktu setelah berzina, wanita muda yang telah bersuami tersebut menangis menyesali perbuatan terkutuknya. Ia kalah akan kuasa nafsu dan tipu daya setan yang menggelincirkan keimanannya. Hidupnya terasa sempit. Perasaan berdosa meluluh lantahkan ketenangan jiwanya.

“Yaa Allah, betapa kotornya aku.” ratapnya menyesali akan perbuatannya.

Dengan langkah gontai penuh kegalauan, perempuan tersebut mendatangi Rasulullah SAW. Di hadapan Rasulullah SAW, wanita tersebut tiba-tiba berteriak, “Yaa Rasulullah, aku telah berzina. Sucikanlah aku, wahai Nabi Allah.”

Di hadapan perempuan tersebut, Rasulullah diam seribu bahasa. Malah Rasulullah memalingkan wajahnya terhadap perempuan yang sedang gundah gulana tersebut. Dan perempuan tersebut tidak mau menyerah akan sikap cuek Rasulullah. Meski beberapa kali ia mencoba, akhirnya Rasulullah tetap bersikap diam dan meninggalkannya.

Setelah beberapa hari berlalu, ketika Rasulullah duduk di majelisnya, perempuan pezina tersebut mendatangi lagi Nabi SAW, dan memohon pencerahannya, “Yaa Rasulullah, sucikanlah aku!”

Seperti di awal, Rasulullah tetap bersikap diam dan memalingkan wajahnya. Dan perempuan itu juga tetap kekeh tak mempedulikan akan sikap Rasulullah SAW yang acuh tak acuh terhadapnya.

“Yaa Rasulullah, mungkin engkau akan mengembalikanku sebagaimana engkau mengembalikan Ma’iz. Demi Allah aku sedang mengandung anak hasil dari perbuatan berzina.” Perempuan tersebut terus berteriak minta respon Rasulullah SAW.

Mendengar ucapan itu, Rasulullah SAW akhirnya menoleh dan berkata, “Engkau akan tetap dirajam sampai anakmu lahir.”

Perempuan tersebut berbunga-bunga mendengar respon Rasulullah SAW. Meski ia tetap tidak akan bisa lolos dari hukum rajam, dan anaknya tetap selamat. Ia sadar atas konsekuensi perbuatan zinanya. Dan ia telah siap untuk semua itu, demi meraih ampunan Allah yang seutuhnya.

Waktu terus berjalan, tibalah saatnya ia melahirkan anak hasil mesumnya. Setelah melahirkan, perempuan tersebut bergegas menemui Rasulullah dengan membawa bayinya. Ia akan memenuhi janjinya untuk menerima hukuman rajam.

“Aku telah melahirkan. Seperti permintaanku dulu, sucikanlah aku, Yaa Rasulullah!” perempuan tersebut kembali memohon pada Sang Baginda Nabi SAW.

Rasulullah memandang penuh kasih akan kondisi perempuan yang berjalan di hamparan taubatan nasuha. Wajah letih dan kepayahan yang luar biasa nampak jelas dari raut muka perempuan tersebut.

Nabi SAW memandang bayi mungil yang dibawa wanita tersebut. Oleh karena itu, Nabi SAW tidak tega melihat kondisi sang jabang bayi. “Pergilah, susuilah anakmu hingga engkau menyapihnya.” Sabda Rasulullah SAW.

Perempuan yang sudah pasrah akan ketentuan Tuhannya tersebut lantas pergi bersama bayinya. Ia memenuhi perintah Rasulnya untuk merawat buah hatinya hingga menyapih selama dua tahun ke depan.

Setelah dua tahun merawat bayinya, waktu telah tiba baginya untuk melaksanakan perintah Rasulullah. Ia segera berkemas menghadap Rasulullah bersama anaknya. Dengan sepenuh cinta, ia berikan sepotong roti kepada anaknya. Naluri keibuannya muncul, ia merasakan sesak yang mengiris jiwanya. Nafsunya bergejolak, tak tega rasanya kudu meninggalkan anaknya. Apa boleh buat, ia tidak boleh janji di atas ingkar. Rasulullah SAW dan Allah harus di atas segalanya dengan penuh kerelaan.

Dengan iman yang membara, perempuan tersebut memenuhi ikrar sucinya, “Yaa Rasulullah, aku telah menyapihnya, dan anakku inipun telah mendapatkan haknya atasku. Untuk itu, sucikanlah aku, wahai Nabi Allah!”

Akhirnya... Sebelum merajam perempuan tersebut, Rasulullah memerintahkan pada salah satu sahabatnya untuk membawa pergi anak dari perempuan yang akan menjalani hukuman rajam tersebut.

Setelah itu, Rasulullah memerintahkan untuk segera dilaksanakan hukum rajam. Perempuan yang beruntung tersebut dikubur sampai dadanya. Dan para sahabat lainnya ikut menjadi eksekutor hukuman rajam, yaitu dengan melempari batu hingga ia benar-benar telah mati.

Akhirnya usai sudah pelaksanaan hukuman rajam bagi perempuan pezina yang telah menempuh jalan Tuhannya (taubat). Setelah dimandikan, dan sebelum menyalatkan perempuan yang telah disucikan tersebut, Rasulullah bersabda ke pada para sahabatnya, “Perempuan ini telah bertaubat dengan taubatan yang sesungguhnya. Seandainya tujuh puluh penduduk Madinah menerima taubatnya, niscaya mereka akan mendapatkan bagiannya. Ia mati dalam keridhaan Allah, karena kesungguhannya dalam bertaubat.”

Demikianlah jalan suci perempuan pezina, dan dalam hadis lainnya yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim juga dijelaskan, “Wahai Umat Muhammad, tidak seorangpun yang dicemburui oleh Allah (dari) hamba-Nya yang laki-laki dan perempuan yang berzina yang telah bertaubat. Wahai Umat Muhammad, seandainya engkau tahu apa yang aku tahu, niscaya engkau akan tertawa sedikit dan menangis yang banyak.”

Wallahu ‘alam bishawab.

(Disarikan dari Innaha Maalikah; Dr. Muhammad bin Abdul Rahman Al-Rafi’i)

Hikmah
Tidak ada manusia di muka bumi ini yang sempurna. Manusia adalah tempat blegedekannya salah dan dosa. Salah dan tergelincir dari maksiat adalah seuatu yang lumrah bagi setiap insan. Selamat dari dosa dan kesalahan tidak dapat dimiliki, kecuali para Nabi.

Demikianlah keadaan manusia yang serba lemah dan serba kurang, seperti dalam firman-Nya:

“Manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah.” Q.S. An-Nisa Ayat 28.

“sesungguhnya manusia itu sangat dhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” Q.S. Ibrahim Ayat 34.


Seperti kisah di atas, betapa lemahnya manusia yang tak bisa menahan bujuk rayu nafsu setan, yaitu dengan berzina. Ia mengingkari nikmat Tuhannya dengan berbuat dhalim dan tidak bersyukur. Keluarga yang diberkahi akhirnya hancur berantakan karena perselingkuhan.

Rasulullah juga menegaskan kembali akan kelemahan dan kekurangan kita sebagai manusia, “Setiap anak Adam (manusia) pasti sering berbuat kesalahan. Dan sebaik-baik manusia orang yang berbuat kesalahan adalah yang mau bertaubat.” H.R. Ibnu Majah No. 4251.

Dari hadis tersebut, Rasulullah SAW tidak mengatakan sebaik-baik manusia yang tidak pernah berbuat salah, karena memang manusia adalah makhluk yang lemah dan pasti bisa berbuat salah (terjaga dari kesalahan); kecuali para Nabi.

Di sisi lain, Allah juga memberikan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dengan jalan taubatan nasuha. Sunggu, hikmah adalah milik orang-orang yang tersesat. Untuk meraih ridha Allah tersebut, jalan pertama dan paling utama adalah tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah! Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa-dosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Q.S. Az-Zumar ayat 53.
Oleh karenanya, bila kita terjerumus berbuat kesalahan dan dosa, maka jalan taubat harus segera kita gelorakan. Seperti dalam firman Allah Q.S. Ali Imran Ayat 133, “Bersegeralah dalam ampunan dari tuhan kalian, dan Surga yang seluas langit dan bumi untuk disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Dengan kesungguhan dan keridhaan Allah, taubat bisa menjadi jalan meraih cinta Allah. Seperti halnya kisah perempuan pezina di atas, dengan bersungguh-sungguh bertaubat, akhirnya Allah pun ridha dan menempatkannya dalam kedudukan yang mulia di dunia dan di akhirat. Mengenai hal tersebut, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah sangat bergembira terhadap taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan salah satu di antara kalian yang kehilangan untanya di padang pasir kemudian menemukannya kembali.” H.R. Muslim No. 2747.

Taubat juga merupakan amalan yang paling digemari para orang-orang shalih. Karena sesungguhnya istighfar dan taubat adalah ibadah; sebagai pengakuan akan kelemahan kita sebagai manusia. Dan para nabi yang jelas-jelas ma’shum juga mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah-pun juga bertaubat. Mereka juga mengajak umatnya untuk bersegera dalam ampunan (cinta ) Allah dengan bertaubat.

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan beristighfarlah kepada-Nya. Sesungguhnya aku aku bertaubat kepad-Nya dalam sehari seratus kali.” H.R. Muslim No, 2702.

“Hai kaumku, mohonlah ampun pada Tuhanmu, lalu bertaubatlah kepada-Nya...........” Q.S. Hud Ayat 52.


Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mendawamkan amalan istighfar dan taubat dalam mengarungi kehidupan ini. Tidak usah menunggu berbuat salah untuk memperbanyak istighfar dan taubat. Karena Nabi, dan orang shalih juga selalu beristighfar dan bertaubat sebagai bentuk sembah rasa (hamba yang lemah). Janganlah kita termasuk orang-orang yang merugi, ketika taubat sudah ditutup penerimaan-Nya oleh Allah (datang sakaratul maut). Perhatikan firman Allah berikut, “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah apabila ajal telah datang.....” Q.S. An-Nisa 18.

Hakikat Taubat

Lisan mengakui akan kelemahan kita sebagi manusia dan juga karena dosa-dosa yang telah kita lakukan itulah istighfar. Namun yang paling utama adalah amalan hati, yaitu pengakuan diri dan penyaksian diri; berjanji tidak akan melakukan perbuatan dosa lagi (itulah taubat).

Jumhur ulama menyepakati, bertaubat dari segala macam dosa hukumnya wajib. Jika maksiatnya langsung kepada Allah, maka taubat dan memperbaharui syahadat adalah syarat mutlaknya. Namun jika ada sangkut pautnya dengan manusia dalam melakukan kedhaliman dan maksiat, maka syaratnya bertauabat ada empat hal. Yaitu berjuang menjauhi maksiat tersebut, menyesali perbuatannya, berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatan durjananya dan mengembalikan hak-hak orang yang telah kita dhalimi (disertai permintaan maaf).

Tanda-tanda Allah Menerima Taubat Hamba-Nya

Seseorang yang telah berjuang menempuh jalan taubat dengan bersungguh-sungguh, maka Allah akan menerima taubatan nasuha hamba-Nya tersebut. Namun sering kali Allah belum bisa menerima taubatan hamba-Nya karena syarat-syarat bertaubat belum terpenuhi. Adakalanya juga Allah sudah menerima taubatan nasuha seorang hamba, namun karunia rahmat-Nya masih digantung di antara langit dan bumi. Semua itu Allah lakukan untuk menguji kesungguhan hati hamba-Nya dalam menempuh jalan taubat. Itu pula yang sering membuat seorang hamba hampir-hampir berputus asa dari rahmat Allah. Namun keteguhan imannya untuk bertaubat itulah yang membuat ia sampai pada rahmat Allah.

Kabar gembira bahwa Allah sudah menerima taubat hamba-Nya, di antara tanda-tandanya adalah sebagai berikut:

1. Ketenangan batin
Hati seorang yang menempuh jalan taubat akan merasakan ketenangan batin yang luar biasa. Semua itu karena Allah Yang Maha Suci bisa menembuskan sebagian cahaya-Nya ke dalam jiwa-jiwa yang suci. Ibarat kata, frekuensi Allah dan kita bisa nyambung. Allah Yang Maha Suci hanya bisa didekati dengan segala yang suci. Taubatan nasuha itulah penyuci bagi jiwa-jiwa yang tercemar.

2. Optimis Dalam Memandang Kehendak Tuhannya

Bagaimana tidak optimis, jika taubatan nasuhanya tersebut mampu membuat Allah mencurahkan sebagian nikmatnya dalam kehidupannya. Terutama nikmat beribadah kepada-Nya. Hanya mengingat Allah jiwa akan selalu optimis dalam memahami kehendak Allah.

3. Semangat Menuntut Ilmu dan Beribadah
Ia sadar bahwa dosa-dosa yang ia lakukan karena kebodohan dan kelemahan imannya. Maka dari itu, tidak ada jalan lain agar bisa selamat dari perbuatan dosa dengan selalu memperbaharui iman dan taqwanya dengan jalan berilmu dan taqarub ilallah.

4. Tawadhu
Dengan kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, maka ia akan selalu rendah hati pada sesama manusia. Selalu melibatkan Allah dalam segala hal, dan selalu memohon pertolongan-Nya untuk bisa terhindar dari perbuatan maksiat.

5. Zuhud
Pangkal kehinaan manusia dalam perbuatan dosa adalah nafsu (aluwamah). Maka dari itu jalan zuhud akan menempa bagi orang-orang yang sudah diridhai Allah. Baginya dunia ini hanyalah jalan mengenal Allah sebagai bekal pertemuan sejatinya kelak di akhirat. Dunia ini cukuplah sampai di tangan, tidak sampai menjajah hatinya. Dan iapun menjadi lebih piawai dengan nafsunya, yaitu dengan memenuhi kebutuhannya dan mengendalikan keinginannya. Karena sesungguhnya batu penghalang bagi manusi (dan jin) bertemu dengan Tuhannya adalah nafsu (aluwamah).

6. Ridha

Dengan suka cinta ia akan menempatkan Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya. Jalan ketaqwaan itulah yang akan menyelamatkannya dari perbuatan dosa. Dan apapun kehendak Tuhannya ia akan selalu ridha, minimal bersabar dengan ketentuan Rabb-Nya.

7. Do’a Lebih Manjor
Kalau Allah sudah ridha, hijab-hijab Allah akan terbuka bagi setiap hamba-Nya yang bertaubat. Do’anya pun Allah juga ridha.

8. Allah Mencukupi Kebutuhanya

Allah Maha Mengetahui apa yang sangat dibutuhkan bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat. Kadang dipenuhi karunia sehat terbebas dari belenggu penyakit. Dicukupi urusan materinya, ilmu dan lain-lain (sesuai kehendak Allah).

9. Cinta Allah
Sungguh, Allah sangat mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat (seperti kisah di atas)

Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan bagi kita untuk selalu beristighfar dan bertaubat kepada-Nya setiap saat. Dan semoga Allah ridha dengan menerima taubat kita, juga menutupi semua aib-aib kita. Aamiin.

Wallahu ‘alam bishawab.

Dua Sayap Taubat



Bina Rasa - Jabir bin Abdullah Al-Anshari meriwayatkan kisah hidup seorang pemuda Anshar yang bernama Tsa’labah bin Abdul Rahman. Sejak masuk Islam ia selalu setia melayani rasulullah SAW dengan cekatan.

Suatu ketika Rasulullah SAW mengutusnya untuk suatu keperluan. Saat sedang menjalankan tugas tersebut, kebetulan ia melewati sebuah rumah salah seorang sahabat Anshar. Tanpa sengaja tiba-tiba ia melihat wanita penghuni rumah tersebut sedang mandi. Sekonyong-konyong ia ketakutan banget. Ia sangat khawatir wahyu akan turun kepada Kanjeng Nabi SAW berkaitan dengan perbuatannya tersebut. Maka dengan ketakutan yang over load ia berlari menjauhi pusat kota. Ketika sampai di pegunungan yang berada di kota antara Madinah dan Mekah, ia pun mendakinya.

Dari kejadian tersebut, Junjungan Nabi Agung Muhammad SAW sangat merasa kehilangan. Hal tersebut berlangsung selama empat puluh hari. Dan akhirnya Allah mengutus Jibril untuk menyampaikan wahyu, “wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu memberikan salam dan berfirman kepadamu yang isinya, bahwa seorang lelaki dari umatmu berada di antara pegunungan ini dan telah memohon perlindungan kepada-Ku.”

Mendengar wahyu tersebut, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Umar dan Salman, berangkatlah sekarang, dan ajaklah kembali Tsa’labah bin Abdul Rahman kemari.”

Kedua sahabat Rasulullah SAW pun segera menyusuri jalan perbukitan yang ada di Madinah, hingga bertemu dengan seorang pengggembala yang bernama Dzufafah. Umar pun bertanya padanya, “Apakah engkau tahu akan seorang pemuda yang tinggal di antara dua pegunungan ini, hai Dzufafah?”

“Apakah yang engkau maksut adalah seorang yang lari dari jahanam?” jawab Dzufafah.

Umar menimpali pertanyaan lagi, “Dari mana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka jahanam?”

“Aku tahu karena setiap malam mendengar teriakan di antara dua pegunungan tersebut dengan sangat lantangnya. Aku mendengar teriakannya, “Wahai Allah, mengapa mengapa tidak Engkau cabut saja nyawaku, Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkanku mendapatkan keputusan?” jawab Dzufafah menjelaskan.

“Nah itu dia yang sedang kami cari. Hmmm...”sahut Umar.

Setelah itu berangkatlah mereka menemui Tsa’labah. Ternyata benar, ketika hari menjelang malam, Tsa’labah keluar. Umar kemudian menghampirinya dan memeluknya penuh kasih, seraya membujuknya untuk kembali kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Dan Tsa’labah pun berkata kepada para sahabat yang menemuinya tersebut, “Wahai Umar, adakah Rasulullah mengetahui dosaku?”

“Aduh... Maaf saya tidak tahu. Hanya saja kemarin beliau menyebut-nyebut namamu dan memerintahkan kami untuk menjeputmu” jawab Umar.

“Aku mohon, janganlah engkau membawaku menghadap Rasulullah, kecuali bila beliau sedang shalat.” Pinta Tsa’labah.

Akhirnya Tsa’labah menemui Rasulullah ketika beliau shalat. Dan Tsa’labah langsung ikut shalat berjamaah bersama Rasulullah. Mendengar bacaan Al-Qur’an Rasulullah dalam shalat, tiba-tiba Tsa’labah jatuh pingsan.

Setelah selesai shalat, Rasulullah segera menghampiri Tsa’labah. Tsa’labah akhirnya siuman di samping Rasulullah.

Rasulullah pun bertanya pada Tsa’labah, “Sahabatku, apa yang menyebabkan engkau meninggalkanku?”

“Dosaku, Yaa Rasulullah.” Tsa’labah menjawab dengan lemas.

Rasulullah akhirnya memberikan nasihat kepada Tsa’labah, “Bukankah pernah kutunjukan kepada kalian tentang ayat yang dapat menghapus dosa dan kesalahan dalam Al-Qur’an ayat 201 yang artinya, Yaa Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

“Benar, yaa Rasulullah. Tapi dosaku menggunung tinggi.” Jawab Tsa’labah.

“Akan tetapi kalam Allah itu lebih tinggi.” Tegas Rasulullah.

Selang beberapa hari Tsa’labah jatuh sakit. Dan Sahabat Salman mengabarkan sakit kerasnya Tsa’labah pada Rasulullah.

Mendengar kabar tersebut, Rasulullah langsung menjenguk Tsa’labah. Ketika menjenguk Tsa’labah, Rasulullah meletakan kepala Tsa’labah di pangkuan beliau. Dan Tsa’labah malah berusaha menggeser kepalanya dari pangkuan Rasulullah.

Melihat situasi tersebut Rasulullah pun bertanya pada Tsa’labah, “Mengapa engkau geser kepalamu dari pangkuanku?”

“Karena kepala ini penuh dengan dosa, tidak pantas berada di pangkuan kekasih Allah.” Tsa’labah menjawab dengan penuh duka.

“Dan apa yang engkau rasakan lagi?” Rasulullah bertanya kembali.

“Seperti ada gerumutan semut-semut di antara tulang, daging, dan kulitku.” Jawab Tsa’labah menahan sakit.

“Lalu apa yang engkau inginkan, wahai sahabatku Tsa’labah?” Rasulullah bertanya penuh kasih.

“Ampunan dari Allah.” Jawab Tsa’labah dengan mantapnya.

Bersamaan dari kejadian tersebut, turunlah Jibril menemui Rasulullah, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanku membacakan salam untukmu, dan berfirman kepadamu: Andaikan hamba-Ku ini membawakan kesalahan sepenuh bumi. Aku pun akan menyambutnya dengan ampunan sepenuh bumi pula.”

Rasulullah kemudian memberitahukan wahyu tersebut kepada Tsa’labah. Seketika itu juga Tsa’labah terpekik gembira. Dan tidak lama kemudian Tsa’labah meninggal dunia.

Rasulullah SAW langsung memerintahkan para sahabat untuk segera memandikan dan mengkafani jenasah Tsa’labah. Dan ketika selesai menyalatkan Tsa’labah, Rasulullah berjalan dengan berjingkat-jingkat.

Setelah selesai pemakaman, salah seorang sahabat bertanya kepada beliau, “Yaa Rasulullah, mengapa tadi engkau berjalan dengan berjingkat-jingkat?”

“Demi Dzat yang mengutusku  dengan benar sebagai Nabi, sungguh aku tidak mampu meletakan telapak kakiku di atas bumi. Karena Malaikat yang ikut melayat pemakaman Tsa’labah sangatlah buanyak.”

Hikmah

Masya Allah. Begitu takutnya akan satu dosa, sang sahabat pilihan tersebut menghukum dirinya sendiri dengan berat. Hukuman dengan sakit keras itu pun belum selesai juga, sampai ia mendapat jaminan bahwa ia benar-benar telah diampuni. Hingga Allah memberitahukan langsung ampunan-Nya di dunia khusus kepadanya. Bahkan, penyesalannya terhadap dosa kecil yang tidak ia sengaja tersebut mampu menggetarkan langit dengan melibatkan Jibril dan para Malaikat dalam jumlah besar khusus memberikan penghormatan dan do’a secara langsung di akhir hayatnya.

Itulah sayap taubat yang pertama, yaitu takut terhadap dosa. Sekecil apapun kesalahan dan dosanya.

Sayap taubat yang kedua adalah tetap optimis akan ampunan Allah. Kisah tsa’labah di atas mengajarkan kepada kita, taubat tidak akan bisa terbang menembus langit dengan satu sayap, yaitu rasa takut (khauf). Sebab dengan hanya satu sayap tersebut justru akan memtahkan harapan kita terhadap rahmat Allah (ampunan). Hal tersebut sama saja menganggap Allah jahat terhadap hamba-Nya. Seolah-olah Allah tidak mengampuni hamba-Nya. Oleh karena itu, taubat kudu terbang bersama sayap lainnya, yaitu harapan (raja’).

Sebesar apapun dosa-dosa yang telah dilakukan seorang hamba, ia tidak boleh membuat dosa lainnya dengan sikap pesimistis. Karena Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Seperti dalam firman-Nya:

“Katakanlah, hai hamba-hambaku yang melampaui batas atas diri mereka sendiri. Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesunggunya Allah mengampuni atas semua dosa-dosa. Sesungguhnya dia Maha Pengamnpun lagi Maha Penyayang.” Q. S. Az-Zumar ayat 53.

Wallahu ‘alam bishawab.

(Sumber: Kajian Ustad Fikasyad)

RANDOM POST

Memuat

KISAH

SPIRITUAL

JAWANISME

HIKMAH